Sesempit apakah dunia? Seluas apakah buana? Sedalam apakah samudera? Setinggi apakah langit? Sesempit, seluas, sedalam, setinggi apapun itu, Kau tidak ada yang bisa menandingi. Sebab, kita adalah debu. Bersatulah debu-debu. Mari kita gantang langit. Kita buhul jadi batu. Kita pintal jadi garam. Kita pilin jadi leontin. Maka, menjadilah kau dan aku, di blog ini, di antara dentuman debu-debu, di bawah kerdip matahari dan bunga-bunga.
Translate
Minggu, 06 Desember 2009
Puisi Suyadi San
Bocah kecil itu sekarang sebatang kara
terlempar di atas puing peradaban
lepas dari pangkuan ibu yang meratap ke syurga pikirannya samsara;
kilas balik damai, ngeri, dan takut
lepas dari popor senjata, mesiu, dan bazoka
berganti gelombang sangkakala menyemai
silih berganti di balik pelupuk matanya
tergambar kampung halaman
yang makmur, dayah dan meunasah
ayah, ibu dan tetangga sekampung
habis ditelan.
Meregang nyawa di dekat kakinya
lalu air matanya membanjir
di antara pipinya yang halus.
Gemuruh ombak berkejar-kejaran
tiba-tiba timbul-tenggelam
menyerigai menanti maut
air setinggi itu
tak mungkin lepas dari pikirannya
derap kaki langit yang menghunjam
tertanam di kalbunya yang berduka
mungkin akan menjadi saksi
bagi anak keturunannya kelak.
Bocah kecil itu kini sebatang kara
tak ada roti apalagi nasi
semua tak disentuhnya
pikirannya samsara
tak mengenal makna suara;
Tsunami, Tsunami!
Medan, 2004
ANAK YANG KEHILANGAN KAWAN
kemarin ada anak-anak yang menangisi nasibnya
karena bapaknya tak mau bekerja
padahal dia butuh obat dan uang santunan
juga sekolah
ketika senja beraut muka
sang anak berharap-harap penuh cemas
menunggu ibu pulang dari kota
karena menjadi babu cucian
tuan kaya ria
“doakan ibu selalu selamat, ya tole!
jangan menangis
nanti mamak belikan raport baru untukmu
jangan menangis
dan jangan minta apa-apa
jagailah adikmu yang suka ingusan
agar kalian nanti besar
tidak seperti bapakmu!”
sang anak tertawa mengerti
dilemparnya bapaknya dengan taplak meja
sang adik menangis semakin jadi
sementara ibu yang dinanti
belum juga pulang dari kota
Medan, 1992-2008
TANGISAN BOCAH
Bocah kecil itu
merengek dan mendamba
beriba dan berharap
cinta kasih seorang ibu
Kasihan kau bocah kecil
Orang yang kaurengek dan kaudamba
Orang yang kau-iba dan kauharap
Melengosi nasibmu
Bocah kecil
akhirnya kaupun tahu
tak ada orang yang mengasihanimu
bocah kecil
kini kau merangkak melatah bumi
mengaisi sisa-sisa hidupmu yang masih panjang
Tapi tangan dan kakimu
Tak kuat menyongsong langit
: tangismu pun meledak sayat
Medan, 1989-2006
BIODATA:
SUYADI SAN, lahir di Medan 29 September 1970. Meraih gelar Sarjana pada Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS IKIP Medan (1997) dan Magister Sains pada Program Studi Antropologi Sosial PPs Universitas Negeri Medan (2008). Tahun 1995 mendirikan Teater GENERASI di Medan. Sebelumnya aktif di Teater Patria dan Teater LKK IKIP Medan.
sumber : Seputar Indonesia, Minggu 20 Juli 2008 rubrik Cerpen & Puisi halaman 4
Sajak Suyadi San
DAMAI JUGA DIA
Aceh masih mendesah dalam nafasku. Ia hadir di seluruh pori-poriku। Siang malam aku menunggu। Akhirnya sampai juga dia di jalan itu.
Jalan berduri. Negeri persinggahan kaum nayaga itu lama bersimbah darah. Tergores dan terluka. Tari seudati tak seindah nyanyian pagi. Seulawah menyimpan berjuta kunang-kunang.
Kini, damai juga dia. Sejumput syukur melesat di binaran sanubariku. Anak-anak riang bermain. Bungong jeumpa mekar di sisi Cut Nyak. Menerpaku. Aromanya sampai ke seantero negeri. Mengangkasa ke swarga.
Damai juga dia. Jangan hentikan kami untuk melangkah. Sebab, Acehku lelah dilibas. Popor senjata dan tsunami.
Jangan hentikan keriangan kami. Jangan hentikan. Sebab didih ini telah luruh, berganti buhul yang tak bisa dilepaskan.
Kepadamu aku bersimpuh : kami telah lelah.
Medan, 28 Agustus 2005
sumber : Mimbar Umum, Minggu 28 Agustus 2005 rubrik Corong Mimbar Budaya
Puisi : Suyadi San
penat terasa, menunggu yang tiada
berkecipak di bukit hijau
; ah, berliku jalan,
ketika tergemap
di ujung matahari
Medan, 29 Februari 2008
SELEMBUT KAPAS
selembut kapas
selembut napas
dalam bisikan angin
: haiya, semberanikah
engkau yang masih
entah
Medan, 29 Februari २००
RUANG, BERUJI DI JANTUNG KOTA
ada sebuah ruang
di dalamnya banyak orang
adakah kamu di antaranya
antara ruang dan waktu
beruji di jantung kota
masihkah jiwamu tergayut di sana
atau kandas tak berupa
Medan, 17 Februari 2008
sumber : Analisa, Minggu 20 April 2008 rubrik Rebana, halaman 6
Puisi : Suyadi San
TABIR
Tum -
pah
ber -
serakan
Di atas lantai.
Karang Berombak, 300190-2001
DAhAGA
gelisahku pontang-panting
Di tengah gelombang
Kemunafikan
O, Tuhanku…..
Karang Berombak, 300190-2001
TERPEJAM
terbujur kaku di atas pembaringan
terbungkus selimut putih hangat
terhibur senandung lagu dan doa
seiring dengan perjalanan roh
dan meninggalkan raga
yang tetap terpejam
hingga bersatu dengan bumi-Mu,
ya Allah
Pulo Brayan, 250290-2001
POLUSI
Bau asap trotoar jalan beraspal
Beterbangan debu asap mana saja
Selalu kutemui kesenjangan-kesenjangan
yang mendasar-dasarkan haluan
Semua menyesakkan
Semua memuakkan
Semua menerasingkan
Sudahlah kerumuni saja lalat-lalat yang
tetap mencari-cari mangsa di kubangan
sana. Biarlah semua menjadi seteru alam
yang muram, sekalian menunggu datangnya
Sang akhir zaman yang merasa murka.
Daripada hidup ini seperti polusi.
P. Brayan, 260290-2001
NYANYIAN NYANYI
Terlonjak-lonjak
Menyingkirkan jidyng
Nyanyian asmah-Mu
Medan, 140390-2001
LUKA
Siapa sangka laut yang beriak itu
tak terdapat ujung pangkalnya
hingga garing pun tak pernah sampai
mendasar-dasarkan lubuk biku yang
tekerlap cahya mentari pagi
Jika hari kian temaram
melihat umat yang tak
pernah berhenti dari rasa rakus
dengan membangun tembok
raksasa
sementara kuman-kuman juga tak
berhenti mengais-ngais
di balik keramahan zaman
Sungguh tak kusangka
bila ternyata jadi begini
kehendak-Nya
(aku diam,
tak bergeming)
Medan, 1990-2006
SURAT
tersobek
moyak
misteri.
Medan, 23 September 1991
SAJAK KEPADA ANGIN
bisu
kaku
nol
Medan, 1991
Sumber : Waspada, Minggu 26 Agustus 2001 rubrik : Abrakadabra
Jumat, 04 Desember 2009
Semangat Heroisme Bergeming
Seketika nasionalisme kita bergolak saat lagu ‘Rasa Sayange’ menjadi nyanyian latar promosi pariwisata negara tetangga. Padahal, sebelumnya kita tak pernah peduli dengan aset budaya yang ada. Berikut bincang-bincang Staf Teknis Publikasi dan Penerbitan Balai Bahasa Medan, Suyadi San SPd MSi, terkait banyaknya daftar panjang budaya Indonesia yang diklaim negara luar, kepada wartawan koran ini, Rahmat Sazaly, kemarin (23/11).
Bagaimana saat ini Anda melihat kedaulatan Indonesia?
Sejumlah kasus yang menggoyahkan sendi-sendi kedaulatan kita sebagai bangsa berdaulat sedang diuji. Daftarnya kalau diurut bisa sangat panjang. Begitulah. Rasanya kewibawaan bangsa ini telah meluntur. Semangat heroisme dan nasionalisme yang disuarakan pendiri bangsa ini nyaris bergeming. Padahal, itu terjadi di tengah bangsa yang mulai melek hak asasi manusia dan demokratisasi.
Lalu, benarkah semangat nasionalisme kita mulai pudar?
Betapa tidak, ketika rakyat mencemaskan sembako, minyak tanah, listrik, air minum, bencana alam, degradasi moral dan mental anak-anak, serta kagok aneka budaya global, para pemimpin kita justru tetap sibuk memikirkan kursi dan jabatan. Sementara negara ‘dizalimi’ bangsa lain.
Sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia ini?
Perubahan sosial telah terjadi di wilayah sentral kajian antropologi, yang mengintegrasikan jutaan orang ke dalam pasar dan negara. Perhatian antropologi terhadap nasionalisme justru menempuh jalur yang berbeda dari ilmu politik yang sejak awal menempatkan negara sebagai pusat kajian.
Apa yang menyebabkan goyahnya nasionlaisme di Indonesia?
Hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh masuk dan berkembangnya pemikiran liberal dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, dan menjadi bagian dari cara ilmu-ilmu sosial memikirkan negara-bangsa dan nasionalisme kita sendiri.
Jadi, apa yang harusnya dilakukan?
Banyak orang berpendapat, multikulturalisme merupakan alternatif yang paling tepat untuk membangun kembali integrasi bangsa tersebut, meski belum ditemukan model multikulturalisme seperti apa yang paling tepat untuk Indonesia.
Pendapat tersebut tidak salah, karena pendekatan proses dalam multikulturalisme lebih relevan untuk menjawab isyu kebangsaan dan integrasi nasional yang kini dituntut mampu menjawab tantangan perubahan.
Apa harapan Anda kepada pemerintah?
Kondisi negeri kita yang serba lemah di berbagai sektor mempermudah kita menjadi rentan untuk “tidak lagi dikehendaki” dalam proses seleksi global. Untuk itu, sudah seharuslah para pemimpin negeri ini memberikan suri-teladan nasionalisme kepada rakyatnya. Tidak cuma berebut kursi dan jabatan. (*)
Tags: blak-blakan
sumber : Sumut Pos, Selasa 24 November 2009 halaman 1 Metropolis24 PESERTA LULUS AUDISI DUTA BAHASA SUMUT
|
| |||||||||
| | ||||||||||
OASE Sajak-sajak Suyadi San
KALI PASIR
di kali ini kutambat cinta rumah purba menuju singgasanamu, tardji balur kesumat rinduku pada puisi di antara guliran waktu dan rinai bocah-bocah kampungku
di kali ini ingatkan aku pada lagu-lagu purba tapak kaki yang pernah menanam nanah lalu merambat dan terdampar di pulau seberang, tanah deli
di kali ini kusulam lagi puisi
yang pernah hilang
karenamu, tardji
Jakarta, 19 Juli 2007
ATJEH
Di pertemuan Krueng Atjeh kutitip jiwaku
Inilah tanah rentjong yang pernah bersimbah
lebam dan kusam
Inilah tanahku, yang pernah tertinggal
tertanam dan buram
Di pertemuan Krueng Atjeh
tersemat puisi damai
untukmu
Bandaaceh, 15 Mei 2007
HORAS, BAH
Horas, bah!
BBM naik, hidup tambah Simanungkalit,
Pandapotan Manurung, banyak Sihotang
tak ada lagi Harahap,
keadaan semakin Ginting
kepala pusing sampai Sibutarbutar
rambut rontok nyaris Poltak
jumlah rakyat miskin sudah Pangaribuan
anak-anak menangis Marpaungpaung
otak sudah Sitompul
tapi kita masih saja diminta sabar Sitorus
'jangan putus Harahap,' katanya
mintalah Parlindungan
supaya Bonarbonar selamat
Medan, 2005
SANDYAKALA BUNDA DAN ANAK
Hari ini ibuku bermuram durja
manakala ku terdiam dihempas
Angin Selatan
Padahal bapakku tak terdiam
kala menyebut roda-roda mati
tempo hari, sementara di dangau
tak ada rindang berpaya-paya
mengaji alif-ba-ta,
anak-anakku tak jua bernyanyi.
Medan, 1996
RANTAK REWANG PETANG
Di persimpangan ini kita lihat benda-benda
peninggalan riwayat dulu
tempat pelesiran suatu malam ketika
rohku hampir melesap dari jiwa
sepasang mata merewang petang
ketika pagi tadi membentur tembok
kemudharatan masa lalu
Rantak rantak jiwa melayang
tinggalkan jasadku nan beku, kasih
lengangkah malam ini ketika
kubur semakin sepi
dan dekat di tepi
simpang jalan
ini
Medan, 1994
Suyadi San lahir di Medan 29 September 1970. Berkiprah di bidang teater dan sastra secara serius sejak duduk di bangku SPG Negeri 2 Medan. Sajak-sajaknya dipublikasikan di berbagai media massa dan terkumpul dalam sejumlah antologi puisi. Dia pernah menjadi Redaktur Budaya Harian Mimbar Umum, Medan. Kini staf teknis Balai Bahasa Medan sembari melatih dan mengajar sastra, teater, dan jurnalistik di Unimed, UISU, dan beberapa sekolah di Medan dan Deliserdang.
( )sumber : Republikaonline.com
| |