Translate

Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahan kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

SILABUS KRITIK SASTRA


PENGANTAR

KB20431182 Kritik Sastra: S-1, 2 sks, semester VIII



Mata kuliah ini lebih ditekankan pada aplikasi langsung kajian karya sastra. Selesai mengikuti perkliahan ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep dasar, metode, aliran, dan jenis kritik sastra, serta mahir mengaplikasikannya terhadap karya sastra, khususnya karya sastra  Indonesia. Dengan demikian mahasiswa diharapkan terampil dalam menimbang dan menilai karya sastra dari berbagai aspeknya. Dalam perkuliahan ini dibahas: sejarah, fungsi, aspek pokok, metode, aliran, dan jenis kritik sastra, serta penerapannya terhadap karya sastra Indonesia.

Perkuliahan ini juga membahas dan mengkaji isu-isu mutakhir sekitar dunia sastra. Pelaksanaan perkuliahan dilakukan dengan pendekatan ekspositori dalam bentuk ceramah dan tanya jawab dengan ditunjang media LCD, OHP, slide, video, dan pendekatan inkuiri yaitu penyusunan, penyelesaian, dan penyajian makalah, laporan buku dan artikel kritik sastra, diskusi dan pemecahan masalah. Evaluasi terhadap kemampuan penguasaan materi oleh mahasiswa dilakukan melalui UTS, UAS, tugas, penyajian makalah, dan diskusi. Buku sumber utama: Harjana, Andre. (1981). Kritik Sastra Sebuah Pengantar; K.S., Yudiono. (1984). Telaah Kritik Sastra Indonesia; ……………. (2009). Pengkajian Kritik Sastra Indonesia; Esten, Mursal (1984). Kritik Sastra Indonesia;Pradopo, Rahmat Djoko. (1994). Prinsip-prinsip Kritik Sastra Indonesia; ............... . (2002). Kritik Sastra Indonesia Modern; Semi, Atar. (1984). Kritik Sastra; Sukada, Made. (1993). Pembinaan Kritik Sastra Indonesia.




SILABUS



1.   Identitas Mata Kuliah
Nama Mata Kuliah            : Kritik Sastra
Kode Mata Kuliah            : KB 20431182
Bobot SKS                      : 2 SKS
Semester/Jenjang              : VIII/S1
Kelompok Mata Kuliah    : MKKPS
Jurusan/Program Studi      : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Dosen/Kode                    : Suyadi San, S.Pd., M.Si./5023

2.   Tujuan
Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu menjelaskan konsep dasar, metode, aliran, dan jenis kritik sastra, serta mahir mengaplikasikannya terhadap karya sastra Indonesia.

3.   Deskripsi Mata Kuliah
Dalam perkuliahan ini dibahas: sejarah, fungsi, aspek pokok, metode, aliran, dan jenis kritik sastra, serta penerapannya terhadap karya sastra Indonesia. Perkuliahan ini juga membahas dan mengkaji karya-karya sastra Indonesia, baik karya klasik maupun karya mutakhir.

4.   Pendekatan Pembelajaran
Pendekatan           : Ekspositori, komunikatif, eksperimental.
Metode                  : Ceramah, Tanya jawab, diskusi, pemecahan masalah, dll.
Tugas                     : Laporan buku, makalah, penyajian, kajian karya, dll.
Media                    : OHP, LCD/power point, dll.

5.   Evaluasi
·         Kehadiran
·         Karya kritik
·         Makalah
·         Penyajian dan diskusi
·         UTS
·         UAS

6.   Rincian Materi Perkuliahan Tiap Pertemuan
Pertemuan I
Membahas:
Membahas:
1.      Tujuan mata kuliah.
2.      Ruang lingkup mata kuliah.
3.      Kebijakan pelaksanaan perkuliahan.
4.      Kebijakan penilaian hasil belajar.
5.      Tugas yang harus diselesaikan.
6.      Buku ajar yang digunakan dan sumber belajar lainnya.
7.      Hal-hal lain yang esensial dalam pelaksanaan perkuliahan.


Pertemuan II s.d. VII
Membahas:
1.      Sejarah perkembangan kritik sastra
2.      Fungsi kritik sastra
3.      Aspek pokok kritik sastra
4.      Rancangan dan teknik dasar penulisan karya kritik
5.      Pendekatan kritik sastra
6.      Aliran-aliran kritik sastra
7.      Reviu materi perkuliahan sebelum UTS

Tugas:
1.      Bentuk tugas: kritik terhadap karya sastra Indonesia (cerpen dan sajak)
2.      Waktu penyerahan: pertemuan ke-3

Bacaan lebih lanjut:
1.      Buku: Kritik Sastra Indonesia Modern (Rahmat Djoko Pradopo, 2002).
2.      Sumber on-line
3.      Artikel yang relevan.

Pertemuan VIII
Ujian Tengah Semester: Ujian tertulis/lisan

Pertemuan IX s.d. XV
Membahas:
1.      Kritik impresionistik dan kritik akademik
2.      Kritik Judisial dan kritik induktif
3.      Kritik sastrawan dan metode ganzheit
4.      Kritik sastra feminisme
5.      Penilaian dalam kritik sastra
6.      Kritik sastra Indonesia: mengenal kritikus dan karyanya
7.      Reviu materi perkuliahan sebelum UAS

Tugas:
1.      Bentuk tugas: kritik terhadap karya sastra Indonesia (novel/wawancara)
2.      Waktu penyerahan: pertemuan ke-15

Bacaan lebih lanjut:
1.      Buku:
Kritik Sastra Indonesia Modern (Rahmat Djoko Pradopo, 2002).
Kritik Sastra Feminisme (Soenarjati Djajanegara, 2000).
2.      Sumber on-line
3.      Artikel yang relevan.

Pertemuan XVI
Ujian Akhir Semester: Ujian tertulis/lisan

7.   Daftar Buku
a.   Buku Utama
Djajanegara, Soenarjati.2000. Kritik Sastra Feminisme. Jakarta: Gramedia.
Harjana, Andre. 1981. Kritik Sastra Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia.
K.S., Yudiono. 1984. Telaah Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
Pradopo, Rahmat Djoko. 1994. Prinsip-prinsip Kritik Sastra Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
............... . 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
………... . 2002. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Gama Media.
Semi, Atar. 1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Sukada, Made. 1993. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

b.   Referensi
Abram, H.M. 1979. The Mirror and The Lamp. London-New York: Oxford University Press.
Damono, Sapardi Djoko. 1978. Sosiologi Sastra. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Faruk. 1994. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hawkes, Terence. 1978. Strukturalism and Semiotics. London: Methueb & Co. Ltd.
Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Selden, Raman. 1986. A Reader's Guide to Contemporary Literary Theory. Liverpool: The Harvester Press.
Sofia, Adib dan Sugihastuti. 2003. Feminisme dan Sastra. Bandung: Katarsis.
Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.
Todorov, Tzvetan. 1985. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan.
Waluyo, Herman J. 1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Wellek, Rene dan Austin Warren. 1995. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia.





Medan, 18 Februari 2013

Dosen Mata Kuliah,




Suyadi San, S.Pd., M.Si.
NIP 197009292005011002

Senin, 07 Mei 2012

MORAL, KEMANUSIAAN, MASYARAKAT


Moral
Ada dua tujuan besar karya sastra ditulis orang : hiburan dan pendidikan. Yang dimaksudkan dengan unsur moral atau pengajaran itu ialah tujuan besar karya dihasilkan, yaitu untuk pendidikan. Sememangnyalah semua karya ada mengandung unsur pendidikan. Pendidikan yang dimaksudkan di sini ialah menyampaikan sesuatu pesan atau amanat untuk meningkatkan cara berpikir, menambah pengetahuan, menjadikan seseorang itu lebih peka dan sensitif serta berbudi bahasa. Karya sastra, pada umumnya, menginginkan pembacanya mengambil hikmah atau pelajaran dari karya yang dibacanya, supaya ia dapat meningkatkan moralnya.
Kajian dari sudut moral memang patut diajarkan dan diperkuatkan. Ada berbagai cara pertanyaan itu dibuat, seperti apakah nilai pengajaran yang boleh didapat dari karya tersebut, sebutkan pesan yang hendak disampaikan, dan sebagainya.
Unsur-unsur moral dan pengajaran dalam sastra dapat dilihat dari berbagai cara. Pertama, mengkaji cerita yang dikemukakan pengarang; apa unsur-unsur moral yang hendak disampaikan. Ini dapat kita bicarakan setelah selesai atau tamat membaca sebuah karya sastra, karena unsur moral biasanya tidak dinyatakan oleh  pengarang dengan jelas. Jadi, terpaksa kita sendiri mencari di balik penceritaannya.
Kedua, unsur moral dapat dilihat dari sudut apakah pesan yang hendak disampaikan oleh sang pengarang. Ada kalanya pesan itu adalah moral karya, tetapi harus dipahami tidak semua pesan karya menjadi unsur moral. Begitu juga aspek persoalan dan pemikirannya juga dapat dijadikan unsur moral, karena apa yang hendak diutarakan pengarang ada saatnya mengandung unsur moral. Sama seperti pesan, tidak semua persoalan dan pemikiran dalam karya sastra dapat dikatakan membawa unsur moral.
Ketiga, unsur moral dapat juga dilihat dari tindakan dan sikap para tokoh dan wataknya. Ini terlebih lagi dapat dikaji dari gerakan watak-watak pemeran utamanya. Sikap watak tidak saja memperlihatkan unsur-unsur moral, namun sekaligus juga dapat mengemukakan contoh moral yang baik.
Unsur moral dalam karya sastra ada hubungannya dengan aspek falsafah dan agama, dan ini merupakan suatu kajian di tingkat selanjutnya. Termasuklah unsur-unsur premis  dan ide yang menjadi tulang punggung penciptaan karya yang sering kali bertalian dengan unsur moral. Konsep dan nilai moral itu juga sering berubah. Perubahan ini diakibatkan oleh perkembangan budaya dan pemikiran manusia. Dan moral suatu bangsa tidak pula sama antara satu sama lain.

Kemanusiaan
Aspek manusia atau unsur kemanusiaan juga merupakan suatu bidang penelitian dalam karya sastra, yang harus diteliti dan ditelaah secara komprehensif. Unsur manusia dan kemanusiaan begitu kental dalam sastra, karena sastra mempunyai hubungan langsung dengan manusia. Apalagi, yang menjadi karakteristik utama dan karakter tokoh lainnya, terdiri dari manusia. Begitupun ada juga karya sastra yang menggunakan tokoh  hewan seperti karya-karya sastra lama atau sastra lisan di Indonesia, terutama dongeng.
Sastra dihasilkan manusia, menggambarkan manusia dan situasi kemanusiaan. Yang menjadi pembacanya secara akrab dan langsung adalah juga manusia. Karenanya, unsur-unsur kemanusiaan sangat kaya dalam sastra. Seorang sastrawan dalam proses penciptaannya ingin menggambarkan kehidupan manusia, pemikiran, perasaan, sikap, dan cita-cita manusia. Apapun yang diceritakan oleh para sastrawan mau tidak mau tetap menyangkut soal kemanusiaan. Bahkan, karya sastra yang baik seperti yang ditulis Shakespeare, misalnya dalam Hamlet, menggambarkan manusia dan kemanusiaan dengan cukup bulat dan kuat.
Membicarakan unsur kemanusiaan dan aspek manusia dalam karya sastra, setidaknya ada tiga bagian yang dapat dilakukan. Pertama, melihat atau menganalisis sifat-sifat kemanusiaan yang terwujud dalam karya. Di antaranya, perasaan, kasih sayang, hormat-menghormati, sombong, pemurah, pendendam, dan sebagainya. Yang terpenting ialah bagaimana unsur kemanusiaan itu mempunyai peranan dalam pengembangaan cerita. Dan bagaimana pula cara  sastrawan mengemukakannya.
Kedua, membahas bagian-bagian dalam karya yang berhubungan dengan situasi untuk menonjolkan manusia. Sering juga disebut sebagai pembahasan karya yang menyentuh masalah memanusiakan manusia. Termasuk di dalamnya mengenai kesadaran manusia terhadap kelemahan dan kekuatannya, perasaan gagal ataupun keyakinan diri dan tindakan-tindakan yang masuk akal atau perasaan, dan sebagainya. Di sini tentunya melibatkan kegiatan atau aksi watak, baik berbentuk fisik, mental maupun kejiwaan para tokoh utama.
Ketiga, melihat makna keseluruhan dalam karya kemudian dikaitkan dengan unsur kemanusiaan. Apakah makna yang terkandung dalam cerita memiliki unsur kemanusiaan atau tidak. Kalau ada, apakah ia halus atau ringan. Soalnya, terkadang ada karya sastra yang mengakhiri ceritanya dengan mengemukakan unsur kemanusiaan, seperti adanya unsur pengorbanan, perjuangan, kerelaan, dan  sebagainya.
Dalam hal meninjau unsur kemanusiaan ini, sebenarnya ada pertalian dengan gambaran masyarakat dan aspek moral. Begitu juga ada kaitannya dengan gambaran kejiwaan atau psikologi. Antara satu sama lainnya mempunyai hubungan yang erat. Hanya saja, cara penekanan masing-masing aspek itu yang dapat menentukan unsur mana yang ditegaskan pengarang dalam karyanya.
Biasanya, seorang pengarang berbakat memiliki daya sensitivitas yang tajam dan peka dengan alam sekitarnya, ia akan memasukkan unsur-unsur kemanusiaan dalam karyanya. Unsur kemanusiaan inilah yang akan menjadikan karyanya bermutu atau tidak. Pembaca tentunya juga akan terasa terlibat jika unsur kemanusiaan  ini dijalin dengan sebaiknya.

Kemasyarakatan
Setiap karya tidak lahir dalam keadaan hampa atau kekosongan sosial. Karya sastra adalah ekspresi masyarakat. Dan sebuah karya itu dapat menggambarkan situasi atau pergolakan masyarakat. Pendek kata, karya sastra dapat dijadikan bahan untuk mengetahui seluk-beluk dan gambaran masyarakat. Singkatnya, dalam karya sastra terdapat berbagai nilai sosial; malah ada yang menyatakan sebuah karya sastra tidak akan menjadi besar atau agung jika ia tidak berhasil mengungkap masalah masyarakat dan hal ihwal manusia yang berhubungan dengan masyarakat tersebut.
Pendekatan yang mengkaji hubungan masyarakat dalam karya disebut sosiologi atau ukuran-ukuran kemasyarakatan. Dengan menggunakan pendekatan ini, kita lebih memahami karya itu. Bahkan, ahli sosiologi dapat mengkaji bukan saja mengenai keadaan masyarakat yang diceritakan pengarang, tetapi juga membina berbagai teori kemasyarakatan. Karenanya, karya  sastra tidak dapat dipisahkan dari masyarakat.
Pendekatan kemasyarakatan mempunyai beberapa aspek yang hendak dikaji. Pertama, mengkaji diri pengarangnya sendiri. Dengan mengkaji latar belakang pengarang, pendidikannya, sosialisasinya, dan sebagainya, kita dapat lebih memahami karyanya. Ini sebenarnya ada kaitannya dengan apa yang sering disebutkan bahwa  setiap yang ditulis pengarang selalu memiliki kaitan dengan dirinya, pengalaman ataupun imajinasinya. Diri pengarang ada hubungan dengan karyanya. Malah terkadang apa yang ditulis merupakan cerita fakta mengenai diri sang pengarang, namun tentunya mendapat beberapa tambahan guna mendramatisasikan keadaan.
Kedua, pendekatan ini melihat atau menguraikan gambaran masyarakat yang ditulis di dalam karya sastra. Setiap karya sastra apapun mau tak mau atau sedikit banyak akan menyentuh seluk-beluk masyarakat; maka pendekatan ini menguraikan bentuk, sifat, dan ciri-ciri kemasyarakatan yang terdapat dalam karya.
Dengan adanya uraian ini, kita dapat memahami situasi masyarakat yang diceritakan. Para pembaca juga dapat mendapatkan pengajaran dan teladan dari peristiwa yang diceritakan, seperti nilai-nilai pertentangan kelas dan kedudukan sosial masyarakat tersebut. Ini tidak hanya memahami masyarakat yang ada di dalam karya, tetapi sekaligus memahami bentuk masyarakat si pengarang.
Ketiga, membahas fungsi dan pengaruh hasil karya. Sebuah karya, pengarang, aliran dan kesusastraan keseluruhan, mempunyai tugas dan pengaruh yang besar terhadap masyarakat, bangsa, dan negara. Karya sastra dapat memberi sumbangan ke arah membukakan mata masyarakat yang buta, memberikan bimbingan, dan sebagainya.
Pengaruh ini termasuk juga melihat kesan yang diberikan sesuatu bentuk, aliran, atau angkatan penulis. Pengaruh institusi juga memberikan kesan timbal-balik kepada perkembangan kesusastraan. Artinya, di antara masyarakat dan karya tidak saja mempunyai hubungan dan pengaruh, tetapi juga menyatu dan lekat antara satu dengan lainnya.

NILAI DAN FUNGSI SASTRA


Sastra = Pertunjukan kata-kata
Sastra ialah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain,  memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar istilah sastra atau karya sastra : prosa atau puisi. Dengan membaca karya sastra, kita akan memeroleh ”sesuatu” yang dapat memerkaya wawasan dan/atat meningkatkan harkat hidup. Dengan kata lain, dalam karya sastra ada sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.
Robert Frost menyebutkan, sastra ialah pertunjukan dalam kata. Ini berkaitan dengan seni. Jadi, dapat pula dikatakan bahwa sastra itu pada hakikatnya adalah pertunjukan dalam kata-kata.  Dengan pertunjukan ini, sastra memiliki kekuatan untuk menghibur. Dengan adanya kata-kata yang menjadi komponen pentingnya, sastra juga memiliki potensi untuk mengajar. Pengajaran tidak mungkin berlangsung tanpa kata-kata meskipun pendidikan lebih efektif disampaikan melalui tindakan.
Hakikat sastra sebagai seni pertunjukan dalam kata dapat diterapkan kepada segala jenis sastra. Sastralah lagu rakyat yang dinyanyikan dan memberikan rasa senang kepada kita. Sastralah pada daun lontar yang ”mempertunjukkan” dan ”mengabadikan” buah pikiran dan renungan Mpu Kanwa tentang keagungan Raja Airlangga. Demikian pula sastralah yang mempertunjukkan seorang gadis Minang yang malang bernama Sitti Nurbaya. Sastralah yang menampilkan sosok seorang manusia yang terobsesi semangat mau hidup seribu tahun lagi dalam ”Aku” karangan Chairil Anwar.
Sebagai seni pertunjukan, sastra paling praktis jika dibandingkan dengan seni pertunjukan lainnya. Teks sastra yang ditulis ratusan, bahkan ribuan tahun lalu, dapat ”dipertunjukkan” kapan dan di mana pun. Seni-seni lain tidak sepraktis sastra. Untuk menikmati seni tari, misalnya, diperlukan ruang khusus, waktu khusus, dan orang-orang khusus pula. Untuk menghibur diri dengan seni musik, kita memerlukan persiapan berikut manusia yang memainkan peralatan musik tersebut dalam waktu dan tempat tertentu.
Lalu, kenapa sastra harus menghibur? Menghibur bukan berarti membuat pembaca terpingkal-pingkal karena tak dapat menahan tawanya. Namun lebih kepada kepuasan batin ketika mengikuti alur cerita. Herman J. Waluyo (2006) memberikan istilah katarsis, yaitu pencerahan jiwa atau penyadaran jiwa terhadap lingkungan masyarakat atau terhadap keterbatasan individu yang sering kali melabrak posisi Tuhan. Memang, ada pengarang yang merepresentasikan karyanya sebagai hiburan dalam artian membuat pembaca hanyut dalam tawanya. Seperti cerita “Kambing Jantan” (2006) misalnya (maaf saya lupa nama pengarangnya) yang penuh dengan kekonyolan-kekonyolan. Namun entah kenapa karya-karya seperti ini sering dianaktirikan sebagai bukan karya sastra tetapi karya teenlit atau sastra prematur.
Jelaslah, sastra itu seni yang paling praktis bagi kita. Namun, seni yang paling praktis itu sering terabaikan. Apresiasi sastra kita terhadap sastra demikian rendahnya. Mengapa? Inilah yang perlu dicari jalan keluarnya.


Nilai Sastra
Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra yang mengorbankan salah satu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang baik.
Karya sastra (yang baik) senantiasa mengandung nilai (value). Nilai itu dikemas dalam wujud struktur karya sastra, yang secara implisit terdapat dalam alur, latar, tokoh, tema, dan amanat atau di dalam larik, kuplet, rima, dan irama.
            Nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, antara lain adalah sebagai berikut:
(1)   nilai hedonik (hedonic value), yaitu nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca;
(2)   nilai artistik (artistic value), yaitu nilai yang dapat memanifestasikan suatu seni atau keterampilan dalam melaksanakan suatu pekerjaan;
(3)   nilai kultural (cultural value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan suatu masyarakat, peradaban, atau kebudayaan;
(4)   nilai etis, moral, dan agama (ethical, moral, relligion value), yaitu nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama;
(5)   nilai praktis (practical value), yaitu nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Fungsi Sastra
Abdul Wachid B.S. secara eksplisit mengemukakan dalam buku kumpulan esai sastranya berjudul “Sastra Pencerahan” (2005) bahwa sastra berfungsi sebagai media perlawanan terhadap slogan omong-kosong tentang sosial kemasyarakatan. Sapardi (1979) mengemukakan tiga hal yang harus diperhatikan yaitu:
a)      Sudut pandangan ekstrim kaum Romantik misalnya menganggap bahwa sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi; dalam anggapan ini tercakup juga pendirian bahwa sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak.
b)      Dari sudut lain dikatakan bahwa sastra bertugas sebagai penghibur belaka; dalam hal ini, gagasan “seni untuk seni” tak ada bedanya dengan praktik melariskan dagangan untuk mencapai best seller.
c)      Semacam kompromi dapat dicapai dengan meminjam sebuah slogan klasik: sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.
Lantas apa fungsi sastra sebenarnya? Tidak terlalu susah namun dikatakan mudah pun juga tidak dalam menentukan fungsi sastra. Namun, pendapat Sapardi di atas adalah pendapat umum tentang fungsi sastra. Kenapa sastra berfungsi sebagai pembaharu? Seperti yang sudah disebutkan jauh di atas, sastra adalah ruang dinamis yang terus bergerak. Akan ada sesuatu yang baru dalam dunia kesastraan. Pendapat yang baru merupakan penyusunan kembali pendapat lama. Kadang-kadang menjadi inspirasi tiada tara. Keadaan yang dinamis ini tentunya tidak akan menciptakan kondisi yang adem ayem saja, tetapi karena sastra itu bergerak dan berpikir, maka polemik, kritik sana-kritik sini adalah hal yang lumrah.
Dari uraian di atas, fungsi sastra dapat dibagi pada beberapa hal.

1.        Sastra sebagai pembentuk Wawasan Baru
Dalam membaca sastra, baik puisi maupun prosa, kita sebenarnya membentuk wawasan baru yang selama ini tidak muncul di dalam jiwa kita. Bagaimana sikap ibu yang baik, umpamanya, dapat kita lihat dalam sastra. Pada suatu saat sosok seorang ibu yang bijaksana kita baca di dalam sebuah novel karena kebijaksanaannya itu menyentuh batin kita. Pada saat lain, kebijaksanaan yang menyentuh itu tidak dapat kita terima lantaran kita telah membaca sebuah novel dengan sosok ibu yang lain yang sebenarnya lebih menyentuh daripada sosok ibu yang pertama. Keberadaan sastra seperti itulah yang dimaksudkan sebagai sarana pembentuk wawasan baru bagi kita.
Bandingkan konsep ibu dalam sajak Surat dari Ibu (Asrul Sani) dengan cerita Malin Kundang (anonim), dan roman Salah Asuhan (Abdoel Moeis).

2.        Sastra sebagai pembentuk Kepribadian Bangsa
Apa yang dapat ditarik dari sebuah karya sastra dalam hal pembentuk kepribadian bangsa? Banyak sekali yang dapat ditarik dan diambil. Tidak hanya pada sastra Indonesia Modern, pada sastra Indonesia lama pun kita mendapatkan nilai kepribadian kita itu.
Nilai kesetiaan seorang istri kepada suami nyata dapat kita lihat pada banyak sastra kita. Nama Puti Subang Bagalang dalam sastra Minangkabau adalah nama tokoh mitos atau tokoh legenda yang dihubungkan dengan kesetiaan. Tunangan Puti Subang Bagalang yang bernama Magek Manandin dituduh mencuri sapi sehingga harus dibuang ke lurah dalam. Magek Manandin itu tidak pernah diharapkan untuk kembali oleh siapa pun. Akan tetapi, Puti Subang Bagalang tetap menanti kedatangannya itu walaupun dia sudah tahu bahwa Magek Manandin tidak akan pernah datang.
 Ni Nogati dalam Setahun di Bedahulu (Armijn Pane) tidak mau menjadi orang yang tidak berguna. Kalau dia sekali dapat mengalihkan cintanya, tentu dia dapat mengalihkan cintanya untuk kedua kali, ketiga kali, dan seterusnya. Hal sama dapat terlihat pada kesetiaan Widuri terhadap suaminya walaupun dia tidak mencintai suaminya dalam Kugapai Cintamu (Ashadi Siregar). Bagaimana dengan kamu?

3.        Sastra sebagai sarana Fatwa dan Nasihat
Sastra banyak memberikan fatwa kepada pembaca baik secara langsung maupun tidak langsung. Fatwa yang ada itu dapat dipetik oleh pembaca sebagai pengetahuan yang baru. Akan tetapi, fatwa tersebut dapat pula dipandang sebagai penggugah, peremaja, peningkat, atau penyistem pengetahuan pembacanya. Fatwa dapat diserap pembaca setelah selesai membaca novel yang isinya dapat disimpulkan oleh pembaca sendiri. Fatwa dapat pula disimak dari peristiwa yang disampaikan tokoh-tokohnya.

4.        Sastra sebagai Kritik Sosial Masyarakat
Kritik sosial dalam sastra dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sastra itu memang mengungkapkan kebobrokan masyarakat dan ketidakpuasan masyarakat terhadap apa-apa yang sudah dimilikinya.  Jika manusia mendapat satu macam, mereka inginnya dua macam. Jika sudah mendapat dua macam, mereka ingin tiga macam. Begitulah terus-menerus ketidakpuasan itu terjadi pada diri manusia.

5.        Sastra sebagai Catatan Warisan Kultural
Sekolah dan universitas memberikan pelajaran dan pengetahuan orang tentang Indonesia. Karya sastra mempunyai fungsi untuk itu secara tidak langsung. Kalau kita membaca karya sastra yang terbit pada tahun-tahun terdahulu, kita akan mengetahui tentang corak budaya pada masa novel itu ditulis. Novel Sitti Nurbaya yang terbit pada 1922 menyuarakan suatu kebudayaan, yang kebudayaan ”kawin paksa”. Pada tahun 1922 kebudayaan kawin paksa masih berlangsung. Pada tahun 1922 kebudayaan ”seorang penghulu atau pemuka masyarakat mempunyai istri lebih dari satu orang” hadir di tengah masyarakat. Bagaimana pula dengan novel Salah Asuhan-nya Abdoel Moeis (1928), Jalan Tak Ada Ujung Mochtar Lubis (1945), Hulubalang Raja Nur Sutan Iskandar (Balai Pustaka), Saman Ayu Utami, Laskar Pelangi Andrea Hirata  atau Ayat-ayat Cinta Habiburrahman El Sirazy (2000)?

6.        Sastra sebagai Pengalaman Perwakilan
Sastra, walaupun suatu karya fiktif, dapat memberikan informasi kepada kita tentang tempat-tempat yang kita belum tahu. Karya sastra juga akan memberi informasi tentang apa yang ada di suatu tempat yang tempat itu tidak sempat dikunjungi oleh pembaca. Pengalaman sastrawan tentang suatu tempat atau keadaan itu ditularkan kepada pembaca dengan karyanya, baik berupa sajak maupun novel. Melalui informasi yang ada di dalam sebuah sajak atau novel, kita mengetahui tempat-tempat penting atau keadaan-keadaan penting, situasi penting, dan sebagainya. Melalui pembacaan sajak yang termuat dalam buku Deru Campur Debu karya Chairil Anwar, kita mengetahui bahwa daerah Karet adalah tempat pemakaman umum di Jakarta. Upacara karya Korri Layun Rampan merupakan sebuah novel yang bercerita tentang adat istiadat bermasyarakat atau cara bermasyarakat di Kalimantan, yaitu suku Dayak.

7.        Sastra sebagai Manivestasi Kompleks Tertekan
Tidak sedikit karya sastra lahir dari suatu luapan perasaan yang paling dalam. Karya sastra menjadi suatu sublimasi dari ketertekanan sehingga bahasa, imaji, serta teknik penceritaannya menjadi meluap-luap. Oleh sebab itu, karya sastra jenis ini perlu dipahami karena di dalamnya terdapat ide atau gagasan yang ide dan gagasan itu tidak dapat muncul di alam sadar. Sajak ”Kembalikan Indonesiaku Padaku” karya Taufik Ismail merupakan salah satu sajak yang bersifat melampiaskan apa yang tidak dapat dikatakan melalui dunia biasa, alam sadar, atau alam normal. Hal sama dialami Iwan Simatupang. Dia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Indonesia sudah kehilangan pribadi. Kecemasan dan kegelisahannya diungkapkannya dalam novel Kooong (1975). Dalam novel ini, Iwan mengkhawatirkan Indonesia yang penuh dengan kehidupan glamour ala Barat, padahal Indonesia mempunyai kehidupan tenang, dengan kokok ayam yang menyamankan hati, nyanyian burung yang merdu pada setiap tempat.

8.        Sastra sebagai Manivestasi Keindahan
Sastra sebenarnya tulisan yang indah. Oleh sebab itu, sastra dapat memunculkan kenangan bagi pembacanya. Kesenangan itu disebabkan oleh kehadiran pengalaman baru bagi pembaca. Pembaca dapat mengembangkan imajinasinya untuk mengenal daerah atau tempat yang asing, yang belum dikunjunginya, atau yang tak mungkin dapat diungkapkan lewat sastra. Bentuk-bentuk baru yang dimunculkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan sajaknya yang aneh, membuat kita merasa senang karena kita menemukan yang baru, membaca hal baru, dapat memberikan nuansa indah baik tentang makna maupun bentuknya. Cara penceritaan Supernova (2001) karya Dewi Lestari juga memiliki kebaruan, yakni seperti silang antara gelang cerita dan inti cerita. Pada gelang cerita hadir Ruben dan Dhimas. Pada inti cerita hadir Ferre, Rara, dan Diva. Akan tetapi, pada suatu saat Diva dapat muncul pada gelang cerita. ***