Translate

Kamis, 10 Desember 2009

Aldian Aripin di Antara Ruang dan Jelajahnya

Oleh Suyadi San

NAMA Aldian Aripin tentu tidak asing lagi dalam jagat sastra Indonesia. Biodatanya kepengarangannya bisa dibaca dalam Leksikon Susastra Indonesia-nya Korie Layun Rampan ataupun Buku Pintar Sastra Indonesia-nya Pamusuk Eneste.

Karya Aldian Aripin secara lengkap dapat dilacak dalam buku Aldian Aripin: Penyair, Karya, Rentang Waktu, dan Lingkup Jelajahnya. Buku ini mengungkap sejarah kepenyairan beserta pumpunan antologi puisi yang ditulis Aldian Aripin, diterbitkan Sastra Leo, Medan, tahun 2001. Aldian Aripin adalah seorang penyair Angkatan 66 yang berasal dari Sumatera Utara.

Buku ini memang terbit tahun 2001. Namun, karya-karya yang muncul masih layak hingga kini. Apalagi, sang penulis tercatat sebagai penyair Angkatan 66 yang kerap mengikuti perkembangan sastra di Indonesia.

Karena itu, di antara jajaran sastrawan ”Angkatan 66” Sumatera Utara, sepatutnya kita tengok ruang-ruang dan lingkup jelajahnya. Ada keistimewaan tersendiri pada diri sastrawan gaek ini. Betapa tidak, di saat memasuki usia pensiun, ia menyempatkan diri mengumpulkan kembali karya-karyanya yang terserak dalam sejumlah buku. Lalu disatukan dan dikompilasi.

Sejauhmana kehebatan wilayah ucap Aldian? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa meminjam pernyataan Siahaan (Aripin, 2001:199), bahwa pada awal kepenyairan, Aldian menyenangi puisi-puisi romantis lalu berubah ke penciptaan puisi imagis yang terpengaruh dari penyair Amerika, Carl Sandburg. Proses selanjutnya ia beralih menulis puisi-puisi mistis-metafisis.

Karya-karyanya dalam buku ini merupakan kumpulan-kumpulan puisinya yang sudah terbit dari tahun 1966-1998 dan sejumlah puisi yang belum terbit. Buku ini memuat kumpulan puisi ‘Ribeli 1966’, ‘Oh Nostalgia’, ‘Elipsis’, ‘Nyanyian Malam Hari’, ‘Amanat’, ‘Comemorative Stone and Other Poems’, dan sejumlah puisi yang terkesan ’dibuang sayang’. Selain itu, buku ini juga memuat beberapa komentar dari para kritikus sastra dan dari pengarang sendiri serta proses kreatifnya dalam berpuisi.

Diawali dengan bagian pertama yang diberi judul ‘Labyrinth’, berasal dari kumpulan puisi Ribeli 1966. puisi-puisi dalam kumpulan ini umumnya mengandung nilai-nilai perjuangan seperti dalam puisi yang berjudul Revolusi: “Revolusi kita adalah revolusi rakyat/yang menegakkan kebenaran, menuntut keadilan/siapa yang khianat/Tahanlah ujung peluru//.”

Atau pada bait terakhir puisinya yang berjudul Akan Tiba Waktu: ”//..//Lihatlah, jutaan tangan teracun/dengan satu tuntutan/Turun tahta!//.” Nilai-nilai perjuangan ini timbul karena sang penyair merasa gelisah akibat ketidakadilan dan kesewenangan pemerintah. Nilai-nilai perjuangan juga terdapat dalam puisi-puisi yang berjudul ’Labyrinth’, ’Elegia Ibukota’, dan ’Akulah Tanah Air’.

Lalu pada bagian kedua yang dipetik dari kumpulan puisi ’Oh Nostalgia’, Aldian menyusun puisi-puisi romantisnya. Hal ini terlihat pada puisi-puisi yang berjudul Balada Penyair dan Gadisnya, Mimpi, Sebuah Kamar, Perempuan, Midah, dan Marilah Sayang.

Ia juga berbicara tentang cintanya yang ditolak dalam puisi Dendam: “Perhitungan-perhitungan yang salah/menyayat hatiku luka parah//...//Jalan berliku, ujungnya menanjak/hatiku sendu, hasratku ditolak//Bertahan atas kelabu, luka kian meruyak/padakertas kusuratkan dendam yang bergejolak//.”

Pada bagian ketiga, Aldian berbicara lewat puisi-puisi singkat yang diambil dari kumpulan ’Elipsis’. Ia berfilosofi tentang Tuhan dan manusia. Simak saja puisinya yang berjudul Ada: ”Adakanlah dirimu/maka/engkaupun adalah//Dan tetap ada/hingga/segalanya punah//.”

Filosofinya tentang Tuhan dan manusia juga terdapat dalam puisi Metafisika, Manusia, Akulah Manusia, Guruh di Jauh, Enneth, Au Revoir, Perjuangan, ’Adam Kesadaran Pertama, Nafi-Isbat, Beban, Kita Memang Suka, Benar, dan masih banyak lagi.

Aldian juga bercerita tentang cinta seperti dalam puisi Ketilang: ”Dendang hati rindu/ketilang di ranting kayu/sendu kicau yang sedih/ketilang kehilangan kekasih/bedil angin di tangan/telah memupus angan//.”

Dalam puisi di atas, meskipun singkat, bisa dilihat kisah cinta seekor ketilang yang kesepian karena ditinggal mati oleh kekasihnya. Pada bait terakhir Aldian menjelaskan bahwa ternyata kekasih ketilang itu telah mati karena dibuhnuh oleh manusia. Pada puisi ini terlihat jika manusia hanya mementingkan kesenangan untuk dirinya sendiri saja. Manusia tidak bisa (mau) melihat apakah kesenangannya itu bisa menyengsarakan makhluk (manusia) lain atau tidak.

Pada bagian keempat, yang diambil dari kumpulan puisinya yang berjudul ’Nyanyian Malam Hari’, Aldian bercerita tentang Bulan Sabit, Orang di Luar, Pintu, ’Jendela, Lampu, Kursi, Meja, Paku, Kalender, Cermin, Rak Buku, Bayangan, Angin Malam, dan benda-benda lain yang menarik hatinya untuk diungkapkan dalam puisi.

Ia juga masih mengungkapkan sisi romantisnya dalam puisi ’Kekasih’: ”Bila aku memandangmu ketagihan/Adalah karena rangsang rasa gairah/Lalu kurentang kedua tangan/Bolehlah dadaku kau belah//Maukah kau tahu/Bahwa besi yang pijar inginkan tempa/Karena pasti kau tahu/Aku terpana karena tergoda//.”

Dalam puisi di atas, ia menceritakan seseorang yang sedang dilanda asmara. Aldian tak lupa mengungkapkan masalah-masalah kehidupan hingga kematian seperti dalam bait terakhir puisinya, Ketakutan Pada Mati: ”Betapa benarkah perihnya/Betapa hebatkah ngerinya/Batas antara hidup dan mati//.”

Pada bagian kelima yang berasal dari kumpulan puisi yang berjudul ’Amanat’, Aldian lebih mengarah kepada sisi spiritual. Puisi-puisi yang bersifat mistis-metafisis mengungkapkan sisi religius, tentang keimanan manusia terhadap Tuhannya.

Pada puisi Man Roa Minkum Munkaron, Aldian mengungkapkan tipisnya keimanan manusia sekarang karena malas dan suka bermewah-mewah. Simak saja puisinya di bawah ini:

Sesungguhnya

telah enggan para malaikat

menyentuh mesjid-mesjid yang megah

yang setiap menjelang waktu sholat

memutar kaset mengumandangkan ayat-ayat

sedang di situ berjejer lusinan kitab

dan di antara jamaahpun ada yang fasih

dan lancar membaca Al-Qur’an

Namun para nazir jarang

yang menyadari akan kealpaan ini

ia malah terlena termangu-mangu dibuai

oleh alunan lagu dari qori yang telah

direkamkan

Sabda telah dilecehkan

firman telah diperjualbelikan

kita tinggal menerima laknat dan kutukan

bencana yang berkepanjangan.

Selain itu, semangat religinya terdapat pada puisi Tentang Sebuah Mesjid, Perjalanan Malam Hari, Karunia, Amanat Bagi Pencari, Batu Hitam, Thawaf, Dzikrullah, Qolbulmukminina Baitullah, Sang Pemandu, Penobatan, Tentang Ruh, Titah, Baiat, Urusan, dan Laisa Ka Mishlihi Syaiun.

Kemudian pada bagian keenam, Aldian mengumpulkan puisi-puisinya yang berbahasa Inggris dalam ’Comemorative Stone and Other Poems’. Semua puisi dalam kumpulan ini pun sudah diterbitkan dalam kumpulan puisi sebelumnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Aldian sendiri dan Harry Aveling, sastrawan dari Australia.

Lalu pada bagian ketujuh, buku ini memaparkan sejumlah komentar dari para kritikus sastra. Drs. M.S. Hutagalung menyatakan bahwa puisi-puisi elipsis Aldian tidak sanggup mendukung isi dari kedalaman dan kebessaran temanya. Dalam menciptakan sajak-sajak itu terkadang ditemukan ungkapan yang mengesankan dan padat, namun sajak-sajak itu condong ke arah konsep-konsep dan statemen (hal. 247).

Beberapa kritikus mencoba menelaah kepenyairan Aldian yang berubah dari wakru ke waktu dan dipengaruhi oleh sastrawan asing. Namun semua itu tidak sepenuhnya benar, karena meskipun ia beralih dari puisi romantis ke mistis-metafisis bukan berarti ia tidak menulis puisi-puisi romantis lagi.

Pada bagian kedelapan, Aldian menanggapi komentar para kritikus. Ia membantah pernyataan dari M.S. Hutagalung yang menganggap puisi-puisinya condong ke arah konsep-konsep dan statemen. Bagi Aldian, apa yang dia tulis dalam puisi-puisinya bukan hanya konsep, tapi sajak yang final (hal. 247).

Ia menambahkan bahwa sajak adalah pekatan kata, suatu esensi. Itulah sebabnya ia selalu cenderung menulis sajak-sajak pendek. Hal itu sekali-kali bukan karena kurang darah, kurang elan vital, tapi baginya, jika mau berpanjang-panjang mengapa harus ditulis sebagai puisi. Bukankah lebih baik ditulis sebagai esai atau cerita pendek saja?

Pada bagian akhir buku ini, Aldian menyematkan karya-karyanya yang terkesan ’dibuang sayang’. Beberapa di antaranya Sajak Buat Ibrahim Sattah yang ditulis dalam bahasa Minang. Selain itu, ada puisi yang berjudul Musim Kemarau dan Mobokrasi Kita yang mengungkapkan kegelisahannya akan negerinya sendiri karena keserakahan sejumlah elite politik. Lalu ada puisi-puisi dalam bahasa Jerman dan Cina serta sebuah lagu yang berasal dari puisi Marilah Sayang. *** (Peneliti pada Balai Bahasa Medan)

sumber : Waspada, Minggu 24 Februari 2009 Rubrik Budaya halaman 18

Rabu, 09 Desember 2009

KOMPLEKSITAS ANTILAN TERHADAP SASTRA INDONESIA

Oleh : Suyadi San

KRITIKUS sastra, pakar sastra, dan peneliti sastra bertanggung jawab dalam upaya pengembangan sastra. Kita mahfumi bersama, pengembangan sastra menempatkan karya sastra sebagai sasaran atau objek kegiatan yang akan diteliti dan dikaji. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk penyusunan, misalnya, kamus sastra, ensiklopedia sastra, sejarah sastra, ataupun buku panduan pengajaran sastra.

Karya sastra yang menjadi sasaran pengembangan ini tidak hanya menyangkut sastra Indonesia, tetapi juga sastra-sastra daerah; bukan hanya sastra Indonesia dan daerah modern, melainkan juga sastra Indonesia dan daerah yang lama; tidak hanya karya sastra berbentuk tulisan, tetapi juga yang masih berbentuk lisan.

Menurut catatan Hasan Alwi (1997:33), sejak tahun 1974 Pusat Bahasa melakukan penelitian terhadap sastra Indonesia dan daerah. Hal sama – tentu saja – dilaksanakan perguruan tinggi yang memang merupakan amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi di samping pendidikan dan pengabdian pada masyarakat.

Sebagian laporan hasil penelitian Pusat Bahasa beserta jajarannya (Balai dan Kantor Bahasa) serta perguruan tinggi, belum diterbitkan. Dalam usaha pengembangan sastra ini, yang diperlukan ialah jangan sampai hasil penelitian sastra tersebut hanya tersimpan rapi di perpustakaan-perpustakaan, tetapi perlu dipilih dan dipertimbangkan penerbitan dan penyebarluasannya.

Dalam hal penerbitan ini, buku-buku yang berisi kumpulan puisi, kumpulan cerita pendek, atau novel sudah cukup banyak. Yang masih langka – untuk tidak disebut tidak ada sama sekali – ialah buku yang khusus berisi esai sastra, padahal manfaat yang dapat ditarik untuk keperluan pengembangan sastra dari buku seperti itu tidak perlu diragukan lagi.

Peran kritikus sastra dalam pengembangan sastra di Indonesia setakat ini cukup dominan dan masih sangat diperlukan. Seharusnya ada keseimbangan antara kuantitas dan kualitas karya sastra yang dipublikasikan pada satu pihak dengan frekuensi kritik dan esai sastra pada pihak lain.

Untuk itu, tampaknya perlu diupayakan agar kritik dan esai sastra tidak terlalu jauh tertinggal di belakang produksi karya sastranya. Buku ”Kompleksitas Sastra Indonesia” (USU Press, 2007) yang ditulis Antilan Purba – setidaknya – merupakan wujud dari upaya itu.

Bagi sejumlah pegiat sastra, nama Antilan Purba mungkin tidak asing lagi. Rajin mengoleksi buku sastra terbaru. Rajin pula menulis (esai) sastra. Namun bagi jagat sastra Indonesia sendiri, nama Antilan Purba mungkin masih asing.

Lima tahun setelah Pragmatik (2002), kini ia menerbitkan buku Kompleksitas Sastra Indonesia (KSI). KSI merupakan buku keenamnya setelah Kompetensi Komunikatif Bahasa Indonesia: Ancangan Sosiolinguistik (1996), Bahasa, Sastra, dan Wacana (1997), Kompetensi Komunikatif: Teori dan Terapan dalam Pembelajaran dan Penelitian Bahasa (1998), Sastra Indonesia Kontemporer (2001), dan Pragmatik.

Buku kumpulan esai Antilan Purba ini hampir 90 persen berisikan artikel yang pernah dimuat sejumlah surat kabar maupun majalah serta buletin di Medan. Sisanya merupakan kertas kerja atau makalah yang pernah disajikan dalam peristiwa sastra di Medan.

Setakat itu pula, Antilan Purba menorehkan jejak-jejak pengamatannya terhadap sastra Indonesia. Melalui esai-esai lepasnya itu, ia meneropong kehidupan bersastra secara kompleks. Menyetir pendapat sastrawan Malaysia, S. Othman Kelantan, Antilan mengakui, terjun ke dalam belantara kesusastraan yang kompleks adalah sesuatu yang sangat menakjubkan dan penuh cita rasa.

Sastra bagi Antilan merupakan sesuatu yang kompleks. Itu, ditambah lagi dengan penyimakannya terhadap pidato H.B. Jassin. Sependapat dengan Jassin, Antilan dalam prakata buku KSI mengemukakan, karya sastra menjadi arsitektur yang amat kompleks sifatnya dan memerlukan berbagai ilmu untuk mengartikannya seutuhnya.

Kompleksitas sastra, bagi Antilan sendiri, harus dipahami sebagai suatu keadaan berproses agar lebih menyempurnakan karya sastra dari ilmu sastra dalam masyarakat secara umum. Ia juga berpandangan, kompleksitas sastra berisi kesalingterkaitan terhadap nilai-nilai pada masa lalu, kini, dan harapan masa depan.

Sebagaimana awal tulisan ini pula, kritikus sastra, pakar sastra, dan peneliti sastra ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pengembangan sastra. Dan, Antilan melalui esai-esainya di dalam buku KSI melakukan tanggung jawab itu. Ia berupaya menjadi penjaga gawang sastra yang baik.

Sebagai penjaga gawang yang baik, ia ikut mengatur formasi guna mendukung kekompleksannya terhadap sastra. Formasi atau bagian pertama dikupasnya melalui label Sastra dan Teknologi, formasi kedua Sastra dan Lokalitas, formasi ketiga Sastra dan Apresiasi, dan formasi keempat Filologi dan Religiusitas. Masing-masing formasi diperkuat sejumlah subjudul.

Di antara empat bagian itu, yang paling menarik adalah ketika Antilan menyoroti seputar masalah sastra dan lokalitas. Pada bagian ini, Antilan mengoreksi keberadaan sastra di Medan. Survei menyebutkan, sastrawan Medan – mungkin juga Sumatera Utara – dan karya-karyanya ternyata tidak dikenal secara luas oleh siswa dan mahasiswa serta guru-guru. Padahal, selain sastrawan era Balai Pustaka dan Pujangga Baru, kita memiliki Bokor Hutasuhut, Herman KS, Maulana Syamsuri, dan sebagainya.

Karya-karya sastrawan Medan juga dianggap tidak memasyarakat, khususnya di lembaga-lembaga pendidikan. Padahal, tiap tahun sastrawan Medan melahirkan buku karya sastra baik secara mandiri maupun bersama. Namun, karya-karya mereka tidak ada di dalam perpustakaan-perpustakaan sekolah. Tidak dimiliki oleh guru-guru bahasa dan sastra Indonesia baik di SD, SLTP maupun SLTA dan perguruan tinggi. Wajar saja jika mereka tidak dikenal oleh siswa, mahasiswa, dan guru.

Solusinya, menurut Antilan, guru atau dosen dapat memanggil sastrawan untuk mengungkapkan pemahamannya atau visinya tentang sastra Indonesia. Sementara sastrawan bisa menampilkan diri secara utuh nelalui perkenalan langsung dengan pembacaan dan penampilan karya-karyanya di lembaga-lembaga pendidikan.

Pada bagian itu pula, Antilan coba mengangkat potensi sastra Mazhab Medan yang dapat mendongkel pariwisata. Apalagi, warna lokal yang terdapat di dalam karya fiksi Indonesia di daerah ini merupakan satu bentuk seni kontem porer sehingga perlu dimasyarakatkan secara luas. Namun, hal itu juga tergantung dari adanya rubrik budaya media massa.

Khusus rubrik budaya di koran-koran, merupakan salah satu wadah mengembangkan sastra Indonesia di Sumatera Utara. Wadah lainnya adalah Balai Bahasa Medan, dewan kesenian-dewan kesenian, kantung budaya-kantung budaya dan sastra, pemerintah, sekolah – dan tentu saja perguruan tinggi.

Rubrik budaya ini hanya merupakan wadah yang dapat dijadikan sebagai corong sastrawan atau pertemuan pemikiran budaya dan sastra. Antilan pun merasa perlu menyarankan agar rubrik budaya berperan jika semua masyarakat budaya dan sastra bertanggung jawab membina dan mengembangkan sastra.

Bagian ketiga tersebut (Sastra dan Lokalitas) sebenarnya masih bisa didiskusikan lebih lanjut. Esai-esai yang muncul dan pernah ditulisnya di dalam media massa tersebut masih perlu dikembangkan lagi. Hal sama – dan paling utama – ketika dia secara tanggung mengupas masalah sastra jurnalistik dan musikalisasi puisi yang terdapat pada bagian pertama (Sastra dan Teknologi). Esai-esai Antilan pada bagian kesatu baru merupakan permukaan dan pengantar, belum menukik dan mendalam. Apalagi, kajian tentang sastra jurnalistik dan musikalisasi puisi ini sangat multidipliner antara ilmu sastra dan ilmu-ilmu yang lain.

Hal itu berbeda dengan opini Antilan sebagaimana terlihat pada bagian ketiga dan keempat. Pada bagian ini, Antilan berenang-renang ke dalam dasar samudera sastra. Ia harus menyelami lubuk sastra anak-anak, menelisik komunikasi dan politik sastra, hingga menemukan format atau konsep sastra berbau religius. Penafsiran Antilan terhadap teks-teks sastra yang kompleks ini menandai keberperanannya dalam menjaga gawang sastra.

Khusus dalam paradigma sastra Islami yang dikupasnya pada bagian keempat, kita jangan dulu menggunakan dalil-dalil kitab suci dan hadis. Sebab, ”sastra adalah segala universal yang terdapat dalam setiap manusia” (hal. 146). Ia hanya membuat ciri-ciri sastra Islami, yakni sastra zikir, jauh dari pornografi, dan sikap serta tidanakan sang pengarang itu sendiri dalam menjelmakan karyanya (hal. 140).

Begitulah. Sebagai sebuah esai awal tentang masalah-masalah besar dan menarik, penulis sependapat dengan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara, Ahmad Samin Siregar, yang terdapat dalam pengantar buku KSI Antilan Purba, bahwa buku KSI ini perlu kiranya dibaca; tidak saja dibaca, tetapi juga dapat dijadikan acuan untuk kemudian membicarakan masalah-masalah besar secara lebih jelas lagi, lebih terurai, dan lebih mendalam. Sekian. *** (Penulis adalah sastrawan dan staf teknis Balai Bahasa Medan)


sumber : Waspada, Minggu 10 Februari 2008 Rubrik Budaya halaman 18

Tinjauan Buku: Mengenal Struktur Sosial Batak Toba

Oleh : Suyadi San

Judul Buku : Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945
Penulis : Bungaran Antonius Simanjuntak
Penerbit/Kota : Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Cetakan/Tahun : Pertama, Mei 2006
Tebal/Ukuran : xii + 220 halaman; 14,5 x 21 cm

PERKEMBANGAN sosial budaya yang bergerak sangat cepat dewasa ini menimbulkan banyak dampak terhadap kehidupan dan pergaulan sosial orang Batak Toba, terutama yang hidup di desa-desa Kabupaten Tapanuli.

Perkembangan itu disadari sepenuhnya adalah pengaruh kemajuan pendidikan, hubungan masyarakat yang terbuka dan sangat cepat antarprovinsi dan antarsuku bangsa। Perubahan yang terjadi akan berpengaruh kepada struktur dan sistem sosial masyarakat Batak Toba secara keseluruhan।
Hal itu terungkap dalam buku ”Struktur Sosial dan Sistem Politik Batak Toba Hingga 1945” yang ditulis Bungaran Antonius Simanjuntak। Sang penulis adalah Guru Besar Antropologi Sosiologi Universitas Negeri Medan. Saat ini masih menjabat Ketua Program Studi Antropologi Sosial Program Pascasarjana universitas tersebut.

Ia lahir di Sipahutar, Tapanuli Utara, pada 24 Juni 1941. Menamatkan Sekolah Dasar di Taman Siswa Kisaran, Tebingtinggi, dan Galang (1948-1954), SMP Kristen II Pematangsiantar (1957), dan SMA Negeri II Pematangsiantar.

Lalu, melanjut ke Strata 1 Sosiologi di Universitas Gajah Mada (UGM) pada 1967, Purnasarjana Sosiologi UGM (1976), Post Graduate Anthropology Universitas Leiden Belanda (1978), dan S-3 Sosiologi UGM (1995). Ia telah menghasilkan 65 judulpenelitian, 16 judul buku, dan puluhan makalah serta artikel.

Minat menulis struktur sosial dan sistem politik Batak Toba itu, menurutnya, diinspirasi oleh perkuliahan yang pernah diterimanya tahun 1977 dari Prof. Dr. H.J.M. Claesen tentang Antropologi Politik di Instituut voor Culturele Antropologie Rijks Universiteit, Leiden.

Hingga sampai ke tangan pembaca, buku mengenai struktur sosial dan sistem politik Batak Toba ini mengalami serangkaian penelitian yang sangat panjang. Semula, buku ini adalah sebuah tesis, dengan penelitian yang dilakukan pada 1975-1976 di Samosir, Toba, Humbang, dan Silindung, Kabupaten Tapanuli Utara.

Penelitian kepustakaan dan dokumen dilakukan di perpustakaan KITLV Leiden, Troopen Instituut di Amsterdam, dan ARA di Den Haag. Kemudian disempurnakan lagi pada penelitian tahun 1988.

Tidak puas sampai di situ, Bungaran terus menguji hasil penelitiannya itu. Setidaknya, data baru dari lapangan dan temuan dokumen baru dipergunakan untuk melengkapi isi tesis di Leiden sehingga menjadi lebih lengkap. Para penguji di ICA Leiden dan BIS sebelumnya memberi predikat ”de beste van Alles” untuk tesis aslinya.

Daerah kelahirannya, Sipahutar, dipilih sebagai contoh profil perkembangan pedesaan di Tapanuli Utara dari sudut pendekatan sejarah dan politik. Tak heran, penyajian buku ini menyangkut berbagai sejarah dan adat istiadat yang memengaruhi struktur sosial dan politik masyarakat di Sipahutar.

Untuk membeberkan hasil penelitiannya itu, Bungaran menggunakan metode deskriptif. Metode ini paling populer di dalam ilmu sejarah dan antropologi agar penggambaran penelitiannya lebih mendalam.

Mitos
Bungaran mengungkapkan, masyarakat Batak sebagai masyarakat yang terisolasi menciptakan mitos untuk identitas dan alah mengesahkan marga-marga yang ada.

Marga adalah landasan munculnya dalihan na tolu, yang menjadi dasar fundamental hubungan sosial dan adat Batak. Struktur kemasyarakatan Batak dapat dilihat dari struktur marga. Marga juga menjadi dasar mendirikan huta baru. Marga raja mempunyai hak atas tanah, pemimpin huta dan lain-lain.


Huta sebagai unit terkecil merupakan benteng untuk melindungi diri dari serangan luar. Huta sebagai anggota horja, maupun bius, memegang peranan penting di dalam kehidupan sehari-hari.


Menurut Bungaran, sebelum Belanda datang, orang Batak tidak suka pemerintahan sistem terpusat. Struktur pemerintahan sentral yang dibentuk Belanda, terbukti mengubah seluruh cara berpikir orang Batak. Mereka menjadi suka pada sentralisme, tetapi menghadapi risiko besar dalam kehidupan sosial dan adat.


Struktur perkawinan boru tulang (MoBrDo) mulai dilupakan. Perkawinan bebas memilih merupakan mode. Sehingga, Bungaran memperkirakan, struktur kekerabatan Batak seolah-olah tidak unilineaat, tetapi juga double unilineaat. Karena, pada taraf tertentu kita tidak boleh mengawini putri dari keturunan saudara perempuan ibu kita.


Hubungan teratur antara orang Batak Toba kota dengan pedesaan Tapanuli Utara, baik melalui kunjungan adat, kunjungan liburan sekolah maupun kunjungan musiman orang desa ke kota, juga sangat intensif menimbulkan perubahan sikap dan tingkah laku.


Frekuensi hubungan antardesa dan kota seperti ini menimbulkan perubahan pa.ndangan terhadap sistem budaya, terutama yang menyangkut adat, tata krama, gaya hidup, serta akebutuhan sosial ekonomi rakyat yang tinggal di desa..


Dalam buku ini, Bungaran juga mengupas bahwa orang Batak cenderung pada cara berpikir yang selalu simbolik. Bahkan, status sosial dilambangkan kepada pembagian yang diterima, baik berupa bagian-bagiana tubuh hewan yang disembelih maupun benda-benda bernilai adat lainnya, seperti uang.


Setiap kegiatan dan benda-benda yang berhubungan dengan adat mempunyai latar belakang kepercayaan. Di dalam struktur lineage, terdapat pengulangan kembali istilah yang dipakai pada setuap tiga generasi. Di dalam hal ini, istilah yang diketahui ialah tiga ke atas dan empat ke bawah (descendent).


Pada bagian akhir bukunya, Bungaran menyimpulkan, dengan memperhatikan struktur organisasi politik Batak prakoloni Belanda, Bataka sudah memiliki keteraturan pemerintahan maupun pengaturan ypacara keagamaan di dalam bentuk organisasi horja dan bius.


Kedua organisasi ini melakukan tugas pemerintahan, antara lain peradilan. Cara satu-satunya untukmenolak keputusan peradilan bius (yang tertinggi) ialah dengan perang. Berdasarkan penelitiannya, di dalam masyarakat yang sederhana pun terdapat peradilan kehakiman yang teratur dan berwibawa.


Onan – dalam hal tersebut – mempunyai kedudukan yang penting, terutama sebagai tempay pemusatan kegiatan yang berhubungan dengan aat berperang maupun kepercayaan dan perjanjian sosial.


Dalam hal ketenteraman dan keamanan, ada semacam ketentuan yang diakui umum bahwa onan merupakan tempat yang damai. Satu hari sebelum dan sesudah hari onan adalah hari damai dan tenteram. Setiap pelanggar hukum ini akan dihukum.


Bungaran menilai, kedatangan orang-orang Barat membawa perubahan besar terhadap cara berpikir tradisional simbolis kepada yang nasional-kritis. Peningkatan pendidikan menyebabkan semakin meningkatnya keinginan orang untuk mengejar status yang lebih tinggi. Karenanya, migrasi lokal maupun regional semakin meningkat di kalangan orang Batak demi mencapai tujuan tersebut.


Struktur Sosial
Dalam buku ini, Bungaran sebenarnya ingin memperlihatkan pada kita bahwa struktur sosial yang berlaku menentukan bentuk struktur dan sistem politik yang dianut. Dalam kasus Batak Toba, ia menemukan hubungan pengaruh positif antara struktur sosial terhadap struktur dan sistem politik.

Itu, dibuktikannya dengan tata cara adat perkawinan, pendirian (pembangunan) huta, peradilan, sustem kekerabatan, agama dan kepercayaan, serta mata pencaharian.


Dalam konteks Indonesia, hasil temuan penelitiannya itu juga bisa diterapkan. Setidaknya, struktur sosial yang berkembang dalam masyarakat modern di Indonesia akan memengaruhi bentuk dan struktur sistem politik masyarakat tersebut. Misalnya, Indonesia pada masa kekuasaan rezim totaliter Orde Baru maupun era reformasi saat ini.


Untuk itu, buku ini sangat tepat dan layak dibaca siapa saja yang ingin mengenal dan memperdalam kebudayaan Batak Toba. Sang penulis yang memang berasal dari Tano Batak ini sangat piawai menyusun kata dan kalimat untuk membeberkan hasil temuan penelitiannya. Apalagi, buku mengenai seluk-beluk kebudayaan Batak dari hasil penelitian masih terbilang sedikit. *** (Penulis, peneliti pada Balai Bahasa Medan dan sedang menyelesaikan tesis pada prodi Antropologi Sosial PPs Unimed)


sumber : Analisa, Minggu 4 Februari 2009 rubrik Rebana halaman 7

Minggu, 06 Desember 2009

Sajak-sajak SUYADI SAN


MALAM, ANDAI DIAM INI MILIKMU

Jangan katakan pada malam,

esok jika kau tatap matahari di ujung timur

ada nafas masih bergeletar

jika kau buka jendela di tepi kamar

ada senyum yang hambar

Jangan katakan pada malam,

embun pagi ini tak bisa mengoyak sepi

tak bisa mengajuk diam

tak bisa

Andai diam ini milikmu

akan kusulam jadi pemikat mimpiku

yang sempat hilang

tapi jangan kau katakan itu pada malam

Medan, 10 Maret 2008

SIANG, DI PERTIGAAN JAM ITU

siang yang meranggas

bercampur debu-debu

juga lindap bebatuan

mengangkasa swarga

alahai, di pertigaan jam itu

kita buhul api jadi nadi

Medan, 24 Februari 2008

EMBUN SAJA BISA DIAJAK BERSENDA

kalau tak ada malam

mana mungkin ada bulan dan matahari

kita berada di antaranya

jangan pernah merasa lelah

apalagi gerah

sebab embun saja

masih bisa kita ajak bersenda

Medan, 21 Februari 2008

ZAMAN, MERINDUKAN MASA SILAM

kucing kurap di atas delman

menari riang penuh hura

pujikan sukma pada pujaan

terakhir jatuh di bilik suara

nyanyian anak rindukan dendang

tetek sang ibu dalam pangkuan

terbiar saja tak ada teman

rindu dendam terbelam-belam

inilah sajakku di taman usang

tak terpikir sekarang dalam impian

apakah bisa nanti kuncup mekar beriringan

ketahuilah wahai kekasih zaman

rinduku kampung halaman

tak guna awak berharap rembulan

terseokkan kaki di abad modernan

terhempas kandas di tepi jalanan

kenapa Tuhanku menginginkan bintang beraturan

lebih baik aku berbalik ke masa silam

Medan, 1992-2006

Suyadi San, putra Jawa kelahiran Medan 29 September 1970. Menyelesaikan S1 di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Medan serta S2 Antropologi Sosial di Universitas Negeri Medan. Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya dimuat pada beberapa buku terbitan Medan dan Malaysia. Selain menulis, juga aktif di komunitas Teater GENERASI Medan yang didirikannya pada 1995. Kini jadi staf teknis Balai Bahasa Medan. Nomor kontak 77462563 dan 08126520983. Pos elektronik suyadisan@yahoo.com

sumber : Andalas, Minggu 23 Maret 2008 halaman 15