Translate

Senin, 21 Januari 2013

BELAJAR DARI ‘RAYA SAYANGE’ DAN ‘INDONESIA RAYA’



Oleh : Suyadi


TIBA-tiba saja kita tersentak ketika lagu “Rasa Sayange” menjadi nyanyian latar promosi pariwisata negara tetangga. Hal sama terjadi ketika Blok Ambalat di Kalimantan diklaim milik negeri lain. Ini menambah daftar panjang yang – apabila dibiarkan – akan berimplikasi pada kedaulatan bangsa Indonesia.
Nasionalisme kita pun bergolak. Akankah  lagu “Indonesia Raya” dan pulau-pulau lainnya milik bangsa kita berpindah ke negara lain?
Sejumlah kasus yang menggoyahkan sendi-sendi kedaulatan kita sebagai bangsa berdaulat sedang diuji. Daftarnya kalau diurut bisa sangat panjang: ada wasit karate digimbal polisi, Tenaga Kerja Indonesia disiksa dan diperkosa majikan, istri pejabat kedutaan RI dilecehkan sukarelawan setempat, dan sebagainya.
Begitulah. Rasanya kewibawaan bangsa ini telah meluntur. Semangat heroisme dan nasionalisme yang disuarakan pendiri bangsa ini nyaris bergeming. Padahal, itu terjadi di tengah bangsa yang mulai melek hak asasi manusia dan demokratisasi.
Lalu, benarkah semangat nasionalisme kita – terutama para pemimpin dan penyelenggara negara – mulai pudar? Benarkah mereka seolah-olah ingkar terhadap ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945?
Betapa tidak, ketika rakyat mencemaskan sembako, minyak tanah, listrik, air minum, bencana alam, degradasi moral dan mental anak-anak, serta kagok aneka budaya global, para pemimpin kita justru tetap sibuk memikirkan kursi dan jabatan. Sementara negara ’dizalimi’ bangsa lain.
*
PEMBICARAAN mengenai nasionalisme dan multikulturalisme bersifat posteriori karena beberapa konsep harus dibicarakan lebih dahulu sebelum membahas isyu tersebut.  Dalam hal ini, tentu banyak diwarnai pemikiran antropologi.
Kebangsaan atau nasionalisme adalah topik baru dalam antropologi. Kajian tentang nasionalisme – ideologi negara-bangsa modern—sejak lama adalah topik pembicaraan ilmu politik, sosiologi makro dan sejarah.
Bangsa (nation) dan ideologi kebangsaan adalah fenomena modern berskala besar. Meskipun kajian mengenai nasionalisme memunculkan masalah-masalah metodologi yang baru berkaitan dengan skala dan kesukaran mengisolasi satuan-satuan penelitian, masalah-masalah ini justru mengait dengan topik-topik lain.
Perubahan sosial telah terjadi di wilayah sentral kajian antropologi, yang mengintegrasikan jutaan orang ke dalam pasar dan negara. Perhatian antropologi terhadap nasionalisme justru menempuh jalur yang berbeda dari ilmu politik yang sejak awal menempatkan negara sebagai pusat kajian.
Antropologi, sejalan dengan tradisi teorinya yang menempatkan evolusi sebagai premis dasar, memosisikan negara sebagai bagian dari pembicaraan mengenai evolusi masyarakat dari sederhana ke kompleks (modern). Dalam hal ini, negara menjadi bagian dari pembicaraan tentang proses masyarakat mengota (urbanizing) sebagai akibat proses evolusi dari masyarakat sederhana (baca: masyarakat primitif).
Dengan kata lain, negara adalah suatu institusi yang merupakan konsekuensi dari evolusi masyarakat tersebut, suatu pengorganisasian yang tumpang-tindih dengan institusi kekerabatan pada masyarakat sederhana pada masa lampau. (Cohen 1985).
Secara metodologi, seperti halnya kita yang hidup pada masa kini, dan disini,  informan penelitian antropologi adalah warga negara. Selanjutnya, masyarakat primitif mungkin tak terisolasi seperti pada masa lampau, sehingga kini tak lagi “lebih asli” atau “lebih murni” daripada masyarakat kita kini.
Para antropolog sejak lama berupaya mengangkat kasus-kasus pada tingkatan mikro, sebagaimana tercermin dari masyarakat sederhana (primitif) yang berskala kecil, populasi kecil, hidup di suatu lingkungan yang relatif terisolasi, dan memiliki kebudayaan yang relatif homogen, ke tingkatan abstraksi yang bersifat makro, sehingga mampu menjelaskan gejala yang sama di berbagai tempat di dunia.
Meski demikian, upaya ini tidak mudah diwujudkan terlebih ketika antropolog masa kini semakin cenderung menyukai keanekaragaman dalam paradigma berpikir konstruktivisme yang kini berkembang, seolah paradigma relativisme kebudayaan yang berakar pada tradisi antropologi masa lampau memperoleh tempat baru pada masa kini.
Dalam terminologi klasik antropologi sosial, konsep “bangsa” (nation)  digunakan secara kurang akurat untuk menggambarkan kategori-kategori besar orang atau masyarakat dengan kebudayaan yang kurang lebih seragam. I.M. Lewis (1985: 287), misalnya, mengatakan bahwa :”Istilah bangsa (nation), mengikuti arus pemikiran dominan dalam antropologi, adalah satuan kebudayaan.”
Selanjutnya Lewis memperjelas bahwa tidak perlu membedakan antara “suku bangsa” (tribes), “kelompok etnik” (ethnic groups), dan “bangsa” (nation) karena perbedaannya hanya dalam ukuran, bukan komposisi struktural atau fungsinya.
Dalam terminologi masa kini, ketika argumentasi homogenitas semakin sukar dipertahankan, maka pembedaan bangsa dan kategori etnik menjadi semakin penting karena keterkaitannya dengan negara modern. Lagi pula, suatu negara yang isinya adalah suatu kategori etnik semakin langka adanya.
Dengan kata lain, suatu perspektif antropologi menjadi esensil bagi pemahaman secara menyeluruh mengenai  nasionalisme. Suatu fokus yang bersifat analitis dan empiris mengenai nasionalisme dalam penelitian modernisasi dan perubahan sosial, menjadi penting dan sangat relevan dengan lapangan kajian yang lebih luas dari antropologi politik dan kajian mengenai identitas sosial.
*
BERKAITAN masalah nasionalisme pasca-”Rasa Sayange” dan ”Indonesia Raya”, barangkali penting merujuk pandangan Ernest Gellner (1983) tentang nasionalisme: “Nasionalisme adalah prinsip politik, yang berarti bahwa satuan nasion harus sejalan dengan satuan politik. Nasionalisme sebagai sentimen, atau sebagai gerakan, paling tepat didefinisikan dalam konteks prinsip ini.
Sentimen nasionalis adalah rasa marah yang timbul akibat pelanggaran prinsip ini, atau rasa puas karena prinsip ini dijalankan dengan baik. Gerakan nasionalis diaktualisasikan oleh sentimen semacam ini” (hal. 1). Pandangan Gellner tentang nasionalisme ini lebih pas untuk konteks negara-bangsa (nation state) seperti Indonesia.
Hal ini tercermin dari konsep “satuan nasion” yang terkandung dalam kutipan di atas. Tampaknya Gellner masih memandang “satuan nasion” sama dengan kelompok etnik – atau setidak-tidaknya suatu kelompok etnik yang diklaim keberadaannya oleh para nasionalis.
Dengan kata lain, nasionalisme, menurut pandangan Gellner, merujuk kepada keterkaitan antara etnisitas dan negara. Nasionalisme, menurut pandangan ini, adalah ideologi etnik yang dipelihara sedemikian sehingga kelompok etnik ini mendominasi suatu negara.
Negara-bangsa dengan sendirinya adalah negara yang didominasi oleh suatu kelompok etnik, yang penanda identitasnya –seperti bahasa atau agama—kerapkali  terkandung dalam simbolisme resmi dan institusi perundang-undangannya.
Tokoh lain yang dikenal dengan gagasan teoretisnya tentang nasionalisme, khususnya Indonesia, adalah Benedict Anderson, yang mendefinisikan nasion sebagai “an imagined political community” – dan dibayangkan baik terbatas secara inheren maupun berdaulat.
Kata “imagined” di sini lebih berarti “orang-orang yang mendefinisikan diri mereka sebagai anggota suatu nasion, meski mereka “tak pernah mengenal, bertemu, atau bahkan mendengar tentang warga negara yang lain, namun dalam pikiran mereka hidup suatu citra (image) mengenai kesatuan komunion bersama” (hal. 6).
Jadi, berbeda dari pendapat Gellner yang lebih memusatkan perhatian pada aspek politik dari nasionalisme, Anderson lebih suka memahami kekuatan dan persistensi identitas dan sentimen nasional. Fakta bahwa banyak orang yang rela mati membela bangsa menunjukkan adanya kekuatan yang luar biasa itu.
Meski Gellner dan Anderson memusatkan perhatian pada tema yang berbeda, prinsip politik dan sentimen identitas, keduanya sesungguhnya saling mendukung.  Keduanya menekankan bahwa bangsa adalah konstruksi ideologi demi menemukan keterkaitan antara kelompok kebudayaan (sebagaimana didefinisikan warga masyarakat yang bersangkutan) dan negara.
Anderson sendiri berupaya memberikan penjelasan terhadap apa yang disebut “anomali nasionalisme”. Menurut pandangan Marxis dan teori-teori sosial liberal tentang modernisasi, nasionalisme seharusnya tidak lagi relevan di dunia individualis pasca-Pencerahan, karena nasionalisme itu berbau kesetiaan primodial dan solidaritas berbasis asal-usul dan kebudayaan yang sama.
Maka, kalau kita kini menyaksikan “goyahnya” nasionalisme di Indonesia, hal ini mungkin disebabkan antara lain oleh masuk dan berkembangnya pemikiran liberal dalam ilmu-ilmu sosial di Indonesia, dan menjadi bagian dari cara ilmu-ilmu sosial memikirkan negara-bangsa dan nasionalisme kita sendiri.
Kajian antropologi mengenai batas-batas etnik dan proses identitas mungkin dapat membantu memecahkan problematika Anderson. Penelitian tentang pembentukan identitas etnik dan dipertahankannya identitas etnik cenderung menjadi paling penting dalam situasi-situasi tak menentu, perubahan, persaingan memperoleh sumberdaya, dan ancaman terhadap batas-batas tersebut. ]
Tak mengherankan, gerakan-gerakan politik yang berdasarkan identitas kebudayaan kuat dalam masyarakat yang tengah mengalami modernisasi, meskipun hal ini tidaklah berarti  bahwa gerakan-gerakan tersebut menjadi gerakan-gerakan nasionalis.
*
DARI analisis tentang perspektif antropologi mengenai nasionalisme dan negara di atas, dapatlah dikemukakan bahwa negara-bangsa Indonesia kini menghadapi tantangan-tantangan besar, yang apabila tak berhasil menghadapi dan menaklukkan tantangan tersebut, dapat diprediksi bahwa negara kesatuan Republik Indonesia ini akan berakhir.
Akan tetapi kalau kita memiliki kesepakatan dan komitemen bahwa negara kesatuan ini adalah final, maka kita perlu memperhatikan secara seksama tantangan-tantangan yang kita hadapi, dan tugas-tugas yang harus kita laksanakan untuk menghadapinya.
Banyak orang berpendapat, multikulturalisme merupakan alternatif yang paling tepat untuk membangun kembali integrasi bangsa tersebut, meski belum ditemukan model multikulturalisme seperti apa yang paling tepat untuk Indonesia.
Pendapat tersebut tidak salah, karena pendekatan proses dalam multikulturalisme lebih relevan untuk menjawab isyu kebangsaan dan integrasi nasional yang kini dituntut mampu menjawab tantangan perubahan.
Menghadapi tantangan nasionalisme kita dari tekanan  bangsa alain, ada beberapa hal yang perlu dicermati. Pertama, fakta keanekaragaman sukubangsa, ras, agama, dan golongan sosial- ekonomi, semakin diperumit oleh faktor geografi Indonesia yang kepulauan, penduduk yang tinggal terpisah-pisah satu sama lain,  mendorong potensi disintegrasi meningkat.
Kedua, prenis antropologi bahwa nasionalisme dan negara seyogyanya dibicarakan mulai dari akarnya, yakni mulai dari konsep-konsep “sukubangsa”, “kelompok dan etnisitas”, jelas menunjukkan bahwa apabila semangat nasionalisme luntur karena berbagai sebab, maka yang tertinggal adalah semangat kesukubangsaan yang menguat. Dengan kata lain, meningkatnya semangat primordial (antara lain kesuku-bangsaan) di tanah air akhir-akhir adalah indikasi melunturnya nasionalisme.
Ketiga, hak-hak minoritas senantiasa melekat pada fakta pengaturan keanekaragaman yang ada. Apabila pengaturan nasional berorientasi pada kebijakan kebudayaan seragam dan sentralistis, maka fakta pluralisme, diferensiasi, dan hierarki masyarakat dan kebudayaan akan meningkat.
Dalam kondisi ini hak-hak minoritas akan terabaikan karena tertutup oleh kebijakan negara yang terkonsentrasi pada kekuasaan sentralistis. Namun, apabila pengaturan tersebut adalah demokratis dan/atau multikuluralistis maka hak-hak minoritas akan semakin dihargai.
Yang perlu diperhatikan adalah bahwa upaya membangun bangsa yang multikultural itu berhadapan dengan tantangan berat, yaitu fakta keanekaragaman yang luas dalam konteks geografi, populasi, sukubangsa, agama, dan lainnya. Oleh karena itu, membangun negara-bangsa yang multikultural sepertinya harus dibarengi oleh politik pengaturan dan sentimen kebangsaan yang kuat.
Keempat, perekat integrasi nasional yang selama ini terjadi seperti politik penyeragaman nasional dan konsentrasi kekuasaan yang besar sesungguhnya adalah hal lumrah dalam politik pemeliharaan negara bangsa. Namun, mekanisme pengaturan nasional ini terganggu ketika seleksi global “tidak lagi menghendaki” bentuk negara-bangsa sebagai bentuk pengaturan nasional pada abad yang baru ini.
Kondisi negeri kita yang serba lemah di berbagai sektor mempermudah kita menjadi rentan untuk “tidak lagi dikehendaki” dalam proses seleksi global. Untuk itu, sudah seharuslah para pemimpin negeri ini memberikan suri-teladan nasionalisme kepada rakyatnya. Tidak cuma berebut kursi dan jabatan. *** (Penulis saat ini sedang mengakhiri studi Magister Sains Antropologi Sosial pada program pascasarjana Unimed)











PUSTAKA

Abdullah, Taufik (ed), 1996. Agama dan Perubahan Sosial. .Jakarta : RajaGrafindo Persada
Adimihardja, Kusnaka, 1983. Kerangka Studi Antropologi Sosial dalam Pembangunan. Bandung : Tarsito
Al-Barry, M. Dahlan Yacub, 2001. Kamus Sosiologi Antropologi. Surabaya : Indah
Anderson, B. (1991 [1983]) Imagined Communities. Reflections on the Origins and Spread of Nationalism. 2ndedition. London: Verso.
Barth, Frederik, 1998. Kelompok Etnik dan Batasannya. Jakarta : UI Pers
Bowen, John R, t.t. Religions in Practice : An Approach to the Anthropology of Religion. Washington University in St. Louis
Cohen, A. (1974) Two-dimensional Man. London: Tavistock.
Coppel, Charles A., 1994. Tionghoa Indonesia dalam Krisis. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
Diamond, Larry dan Plattner, Marc F., 1998. Nasionalisme, Konflik Etnik, dan Demokrasi. Bandung : ITB
Eriksen, Thomas Hylland, t.t. Ethnicity and Nationalism : Anthropological Perspektives. Pluto Press
Faruk dkk, 2000. Perlawanan Diskriminasi Rasial-Etnik. Magelang: IndonesiaTera
Furnivall, J.S. (1938) The Netherlands Indies: A Study in Plural Economy. Cambridge: Cambridge University Press.
Geertz, C. & D. Apter, eds. (1969) The Old Societies and New States. Chicago: Aldine Publications.
Gellner, E. (1983) Nations and Nationalism. Oxford : Blackwell.
Geerts, Clifford, 1992. Kebudayaan dan Agama. Yogyakarta : Kanisius
Giddens, Anthony dan Held, Davids, 1987. Kelompok, Kekuasaan, dan Etnik. Jakarta : Rajawali
Saifuddin, A.F. (2005) Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritik Mengenai Paradigma. Jakarta : Prenada-Media.
Smith, A.D. (1986) The Ethnic Origin of Nation. Oxford: Blackwell.
Turner, V. (1969) The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Chicago: Aldine Publications.


sumber : Harian Analisa

Bibliografi Tulisan Artikelku 1991-2012



(1)    “Permendagri No 40 Tahun 2007 Selamatkan Ancaman Kepunahan Bahasa”, Harian Analisa
(2)    “Pers Ujung Tombak Pemertahanan Bahasa”, Harian Analisa
(3)      “Effendy-Djumiran”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 12 Januari 2013 Halaman 9
(4)      “Penyair Nusantara”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 5 Januari 2013 Halaman 9
(5)      “Ketoprak Dor Teater Rakyat Asli di Sumut”, Harian Waspada, Minggu 23 Desember 2012
(6)      “Ketoprak Dor”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 22 Desember 2012 Halaman 9
(7)      “Peran Lembaga Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 8 Desember 2012 Halaman 9
(8)      “Pluralisme Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 1 Desember 2012 Halaman 9
(9)      “Pengembangan Sastra”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 17 November 2012 Halaman 9
(10)       “PPSS XV”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 10 November 2012 Halaman 9
(11)       “Revitalisasi Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 3 November 2012 Halaman 9
(12)  “Inti Sari UU Kebahasaan”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 29 September 2012
(13)  “Perkuat NKRI”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 22 September 2012
(14)  “Sanksi Pelanggar Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 15 September 2012
(15)  “Undang-undang Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 8 September 2012
(16)  “Undang-undang Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 1 September 2012
(17)  “UU Bahasa dan Strategi Kebudayaan”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 25 Agustus 2012
(18)  “Dahri ‘Tok Ai’ Sang Maestro”, Harian Waspada, Minggu 12 Agustus 2012
(19)  “Jati Diri Budaya Bangsa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 11 Agustus 2012
(20)  “Musibah Budaya”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 4 Agustus 2012
(21)  “Bahasa versus Serbuan Budaya”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 28 Juli 2012
(22)       “Kedudukan Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 21 Juli 2012
(23)       “KIM, Jangan Sebatas Obrolan”, Harian Waspada, Minggu 15 Juli 2012
(24)       “Fungsi Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 14 Juli 2012
(25)       “Bahasa dan Budaya”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 30 Juni 2012
(26)       “Teater Sumut, Masih Adakah”, Harian Waspada, Minggu 24 Juni 2012
(27)       “Bahasa adalah Proses Berpikir”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 23 Juni 2012
(28)       “Bahasa sebagai Alat Komunikasi”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 16 Juni 2012
(29)       “Teater Calon Guru Itu Bernama Bahtera”, Harian Waspada, Minggu 10 Juni 2012
(30)       “Bahasa Pers”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 9 Juni 2012
(31)       “Berhala Globalisasi”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 26 Mei 2012
(32)       “Krisis Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 19 Mei 2012
(33)       “’Kretak’ LKK”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 12 Mei 2012
(34)       “KOMPI”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 5 Mei 2012
(35)       “Geng Motor”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 28 April 2012
(36)       “Omong-omong Sastra”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 21 April 2012
(37)       “Festival Film”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 14 April 2012
(38)       “’Bom Waktu’”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 7 April 2012
(39)       “Festival Legenda”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 31 Maret 2012
(40)       “’Mengapa Musang Berjanggut’ Menuju Festival Legenda Sumatera”, Harian Waspada, Minggu 25 Maret 2012
(41)       “Petra Metra”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 24 Maret 2012
(42)       “BBM”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 17 Maret 2012
(43)       “Nazaruddin, Antara Fiksi dan Realitas”, Harian Waspada, Minggu 11 Maret 2012
(44)       “Musang Berjanggut”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 10 Maret 2012
(45)       “Teater Legenda”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 3 Maret 2012
(46)       “Lapak di TBSU”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 25 Februari 2012 Halaman 9
(47)       “Lagi, Dewan Kesenian”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 18 Februari 2012 Halaman 9
(48)       “Budaya Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 11 Februari 2012 Halaman 9
(49)       “Sastra Mahasiswa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 28 Januari 2012 Halaman 9
(50)       “Ang Pao”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 21 Januari 2012 Halaman 9
(51)       “Balai Bahasa”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 14 Januari 2012 Halaman 9
(52)       “Polisi”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 7 Januari 2012 Halaman 9
(53)       “Dewan Kesenian”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 31 Desember 2011 Halaman 9
(54)       “Medan Art Festival”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 24 Desember 2011 Halaman 9
(55)       “Danau ‘Kutukan’”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 17 Desember 2011 Halaman 9
(56)       “Taman Budaya”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 10 Desember 2011 Halaman 9
(57)       “Kala Sumatera”, Harian Mimbar Umum, Sabtu 3 Desember 2011 Halaman 9
(58)       “Medan Dalam Imajinasi Sastrawan”, Harian Waspada, Minggu 23 Oktober 2011 Halaman B10
(59)       “Menelisik Rumah Sastra Kita”, Harian Waspada, Minggu 25 September 2011 Halaman B10
(60)       “Amir Hamzah Potret Kesaksian Zaman”, Harian Waspada, Halaman B10
(61)       “Strategi Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah (3)”, Harian Sumut Pos, Selasa 1 Desember 2009
(62)       “Pengaduan Profesor kepada Presiden dan Ompu”, Harian Analisa, Minggu 15 Februari 2011
(63)       “Dewan Kesenian Dalam Persimpangan Jalan”, Harian Waspada, Minggu 18 Januari 2009 Halaman B10
(64)       “Sayang Ada Orang Lain”, Harian Waspada, Minggu 11 Januari 2009 Halaman B10
(65)       “Wek Wek Kartupat Nan Gamang”, Harian Waspada, Minggu 14 Desember 2008 Halaman B10
(66)       “Sikap Positif terhadap Bahasa Indonesia”, Harian Analisa, Rabu 22 Oktober 2008 Halaman 20
(67)       “Alhamdulillah, Medan Punya Pemimpin”, Harian Analisa, 31 Agustus 2008 Halaman 20
(68)       “Teater dalam Dunia Pendidikan Dewasa Ini”, Harian Analisa, Minggu 25 Agustus 2008
(69)       “Koruptor…….Ah!”, Harian Analisa, Selasa 19 Agustus 2008 Halaman 20
(70)       “Pembunuhan Karakter Tokoh Ayat-ayat Cinta Puncak Idealisme FLP?”, Harian Waspada, Minggu 3 Agustus 2008 Halaman 18
(71)       “Ketika Sastrawan Indonesia Beraliansi”, Harian Waspada, Minggu 20 Juli 2008 Halaman 18
(72)       “Nilai Perempuan Dalam Sastra”, Harian Analisa, Minggu 13 Juli 2008 Halaman 7
(73)       “SBI Antilan Purba, Kado 100 Tahun Bangsa Indonesia”, Harian Analisa, Minggu 11 Mei 2008 Halaman 6
(74)       “Sumatera Utara : Ideologi Kepengarangan (Suatu Tinjauan Sosiologis)”, Harian Waspada, Minggu 27 April 2008 Halaman 18
(75)       “Sumatera Utara : Ideologi Kepengarangan (Suatu Tinjauan Sosiologis)”, Harian Waspada, Minggu 20 April 2008 Halaman 18
(76)       “Menyingkap Peta Sastrawan Sumatera”, Harian Waspada, Minggu 16 Maret 2008 Halaman 18
(77)       “Aldian Aripin di Antara Ruang dan Jelajahnya”, Harian Waspada, Minggu 24 Februari 2008 Halaman 18
(78)       “Mampukah Pusat Bahasa Mengemban UU Kebahasaan”, Harian Analisa, Kamis 21 Februari 2008 Halaman 20
(79)       “Sinetron Religius dan Komunikasi Sosial di Televisi Kita”, Harian Analisa, Minggu 17 Februari 2008 Halaman 6
(80)       “Kompleksitas Antilan terhadap Sastra Indonesia”, Harian Waspada, Minggu 10 Februari 2008 Halaman 18
(81)       “Doa Buaya Abu Bakar Parodi Kehidupan ”, Harian Analisa, Minggu 3 Februari 2008 Halaman 6
(82)       “Refleksi Bulan Sastra dan Peran Lembaga Kebahasaan”, Harian Analisa, Minggu Oktober 2007 Halaman 6
(83)       “Menyimak Nafas Angin Amin Setiamin”, Harian Analisa, Minggu 2 Desember 2007 Halaman 6
(84)       “Mengungkap Kemisteriusan Bahasa”, Harian Analisa, Rabu 21 November 2007 Halaman 28
(85)       “Refleksi Bulan Sastra dan Peran Lembaga Kebahasaan”, Harian Analisa, Oktober 2007
(86)       “Menyongsong Undang-undang Kebahasaan”, Harian Analisa, Sabtu 25 Agustus 2007 Halaman 28
(87)       “Mengenal Struktur Sosial Batak Toba”, Harian Analisa, Minggu 4 Februari 2007 Halaman 6
(88)       “Kedudukan Agama dalam Negara Modern (Kasus Liberalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia) (2)”, Harian Analisa, Selasa 30 Mei 2007 Halaman 28
(89)       “Kedudukan Agama dalam Negara Modern (Kasus Liberalisasi dan Multikulturalisme di Indonesia) (1)”, Harian Analisa, Senin 29 Mei 2007 Halaman 28
(90)       “Mentang-mentang (Teater-Bisnis atawa Bisnis-Teater)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 5 Maret 2006, Halaman 7
(91)       “BBM, Bisakah Diperhemat”, Harian Mimbar Umum, Minggu 18 September 2005, Halaman 7
(92)       “Menuju Bulan Bahasa dan Sastra”, Harian Mimbar Umum, Minggu 4 September 2005, Halaman 7
(93)       “Kosa Kata dan Istilah”, Harian Mimbar Umum, Minggu 28 Agustus 2005, Halaman 7
(94)       “Penyair Istana”, Harian Mimbar Umum, Minggu 21 Agustus 2005, Halaman 7
(95)       “Bahasa Indonesia dan Tantangan Global”, Harian Mimbar Umum, Minggu 21 Agustus 2005, Halaman 7
(96)       “Kesusastraan, Mengapa Tidak? (Mendongkel transparansi informasi dalam percepatan pembangunan di Sumatera Utara”, Harian Mimbar Umum, Jumat 19 Agustus 2005, Halaman 7
(97)       “Rawamangun, Tawangmangu, eh Rawangmangun”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Agustus 2005, Halaman 7
(98)       “Jangan Sampai Pecah”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Agustus 2005, Halaman 7
(99)       “Sudah Kugembok Suaramu”, Harian Mimbar Umum, Minggu 31 Juli 2005, Halaman 5
(100)   “BBM, Alahmak”, Harian Mimbar Umum, Minggu 24 Juli 2005, Halaman 5
(101)   “Sarama Babiat Tembus Empat Penjuru”, Harian Mimbar Umum, Minggu 17 Juli 2005, Halaman 7
(102)   “Menangkap Makna”, Harian Mimbar Umum, Minggu 9 Januari 2005, Halaman 5
(103)   “Teater Alternatif = Racun (Coba  Belajar menjadi orang yang Waras IV)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 23 November 2003, Halaman 5
(104)   “Teater Alternatif = Racun (Coba  Belajar menjadi orang yang Waras III)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 16 November 2003, Halaman 5
(105)   “Teater Alternatif = Racun (Coba  Belajar menjadi orang yang Waras II)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 9 November 2003, Halaman 5
(106)   “Teater Alternatif = Racun (Coba  Belajar menjadi orang yang Waras I)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 2 November 2003, Halaman 5
(107)   “Saatnyakah Pelanggar Bahasa Indonesia Diberi Sanksi?”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Oktober 2003, Halaman 5
(108)   “Teater SIM Terima Awards, Teater GENERASI Raih Penghargaan ”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Oktober 2003, Halaman 5
(109)   “Kongres Kebudayaan V Hasilkan 18 Rekomendasi”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Oktober 2003, Halaman 5
(110)   “Sulitnya Mengadili Para Koruptor”, Harian Mimbar Umum, Minggu 4 November 2001, Halaman 6
(111)   “Waspadai Teroris, eh…Komunis”, Harian Mimbar Umum, Minggu 30 September 2001, Halaman 6
(112)   “Mendongkel Seni Tradisi”, Harian Mimbar Umum, Minggu 23 September 2001, Halaman 6
(113)   “SOEMPAH”, Harian Mimbar Umum, Minggu 28 Oktober 2001, Halaman 6
(114)   “WTC dan Hiroshima-Nagasaki”, Harian Mimbar Umum, Minggu 16 September 2001, Halaman 6
(115)   “Kapan, Perang Usai di Aceh?”, Harian Mimbar Umum, Minggu 9 September 2001, Halaman 6
(116)   “Belajar dari ‘Garuda Pancasila’”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Agustus 2001, Halaman 6
(117)   “Kita Sudah Merdeka?”, Harian Mimbar Umum, Minggu 19 Agustus 2001, Halaman 6
(118)   “’Guci yang Pecah’ untuk Teater Mahasiswa Indonesia”, Harian Mimbar Umum, Minggu 12 Agustus 2001, Halaman 6
(119)   “Gairah Penerbitan Kita”, Harian Mimbar Umum, Minggu 5 Agustus 2001, Halaman 6
(120)   “Kita Terjangkit Penyakit Menganggap Diri Lebih Besar”, Harian Mimbar Umum, Minggu 22 Juli 2001, Halaman 6
(121)   “Medan, Siapa Punya”, Harian Mimbar Umum, Minggu 1 Juli 2001, Halaman 6
(122)   “Humor”, Harian Mimbar Umum, Minggu 10 Juni 2001, Halaman 6
(123)   “Dialog”, Harian Mimbar Umum, Minggu 27 Mei 2001, Halaman 6
(124)   “Harkitnas”, Harian Mimbar Umum, Minggu 20 Mei 2001, Halaman 6
(125)   “Republik Bagong”, Harian Mimbar Umum, Minggu 13 Mei 2001, Halaman 6
(126)   “Mencari Kartini”, Harian Mimbar Umum, Minggu 22 April 2001, Halaman 6
(127)   “Wajah Pemimpin Kita”, Harian Mimbar Umum, Minggu 15 April 2001, Halaman 6
(128)   “Teriakan tentang Indonesia dari FKS”, Harian Mimbar Umum, Minggu 25 Maret 2001, Halaman 6
(129)   “Sesudah PPSS IV, Apa?”, Harian Mimbar Umum, Minggu 24 September 2000, Halaman 6
(130)   “Orang-orang Taman Budaya Bergaya”, Harian Mimbar Umum, Minggu 17 September 2000, Halaman 6
(131)   “Tragedi”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Mei 2000, Halaman 6
(132)   “Wakil DPRD Bertemu Seniman”, Harian Mimbar Umum, Minggu 13 Februari 2000, Halaman 6
(133)   “Duta IX, Seronok dan Melelahkan”, Harian Mimbar Umum, Minggu 2000, Halaman 6
(134)   “Sitor Situmorang Tetap Elegan”, Harian Mimbar Umum, Minggu 22 Agustus 1999
(135)   “Pornografi”, Harian Mimbar Umum, Minggu 11 Juli 1999
(136)   “Menyemangati Pemilu 1999”, Harian Mimbar Umum, Minggu 6 Juni 1999
(137)   “Rendra dan Panggung Teater Indonesia”, Harian Mimbar Umum, Minggu 23 Mei 1999
(138)   “Terenyuh Kita pada Semua Amuk”, Harian Mimbar Umum, Minggu 9 Mei 1999
(139)   “Sejarah Aceh yang Perlu Digugah”, Harian Mimbar Umum, Kamis 1 April 1999, Halaman 3
(140)   “…Ke Aceh (akan) Pakai Paspor…”, Harian Mimbar Umum, Selasa 30 Maret 1999, Halaman 3
(141)   “Menyambut ‘Supersemar’”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Maret 1999
(142)   “Apakah Reformasi Sudah Usai?”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Februari 1999
(143)   “Memetik Hikmah Lahir-Batin di Hari nan Fitri”, Harian Mimbar Umum, Minggu 24 Januari 1999
(144)   “Dosa Komunal, Konstitusional, Individual di Hari Fitri”, Harian Mimbar Umum, Minggu 17 Januari 1999
(145)   “Catatan Menjelang Akhir Tahun 1998”, Harian Mimbar Umum, Minggu 27 Desember 1998
(146)   “Menguji Budaya Tepa-Selira di Bulan Desember”, Harian Mimbar Umum, Minggu 6 Desember 1998
(147)   “Mari Menguji Budaya Tepa-Selira di Bulan November”, Harian Mimbar Umum, Minggu 1 November 1998
(148)   “Selamatkan Generasi Muda dari ‘Benang Kusut’ Sejarah Bangsa”, Harian Mimbar Umum, Minggu 18 Oktober 1998
(149)   “Revitalisasi Budaya Bangsa Syarat Mutlak Reformasi Total”, Harian Mimbar Umum, Minggu 11 Oktober 1998
(150)   “Art Summit II 1998”, Harian Mimbar Umum, Minggu 27 September 1998
(151)   “Memasalahkan Angkatan Sastra”, Harian Mimbar Umum, Minggu 20 September 1998
(152)   “Sarjana Kesusastraan Kita”, Harian Mimbar Umum, Minggu 13 September 1998
(153)   “Wadah Berkesenian Kita”, Harian Mimbar Umum, Minggu 6 September 1998
(154)   “Prasangka Ras Itu …”, Harian Mimbar Umum, Minggu 30 Agustus 1998
(155)   “Menghargai Karya”, Harian Mimbar Umum, Minggu 9 Agustus 1998
(156)   “Menumbuhkan Semangat Berkarya”, Harian Mimbar Umum, Minggu 19 Juli1998
(157)   “Menguntit Pesona Alam dan Wisata Sejarah di Utara Sumbar”, Harian Mimbar Umum, Minggu 21 Desember 1997
(158)   “31 Tahun Ribeli, Warisan Budaya yang Harus Ditindaklanjuti”, Harian Mimbar Umum, Minggu 5 Oktober 1997
(159)   “Menyimak Safari M Solly Lubis, ‘Dua Wajah’ dari Pengalaman Batin Berbeda”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 Septem,ber 1997
(160)   “Budaya Kita untuk sebuah Kemerdekaan”, Harian Mimbar Umum, Minggu 17 Agustus 1997
(161)   “Badan Akreditasi Nasional dan Masalah Pajak”, Harian Mimbar Umum, Selasa 7 Desember 1997, Halaman 5
(162)   “Masyarakat Bandung Memang ‘Gila’ Bola”, Harian Mimbar Umum, Minggu 20 Oktober 1997
(163)   “Prospek Lulusan non-Eksakta Tetap Cerah”, Harian Mimbar Umum, Minggu 7 April 1997 Halaman 4
(164)   “Haranggaol dan Istana Purba”, Harian Mimbar Umum, Minggu 28 Januari 1996
(165)   “Tantangan Pendidikan Tinggi Semakin Berat”, Harian Mimbar Umum, Kamis 11 Januari 1996 Halaman 5
(166)   “Pengkhianat tetap Pengkhianat….”, Harian Mimbar Umum, Minggu 19 November 1995
(167)   “Pelantikan Anggota Baru Teater LKK IKIP Medan”, Harian Mimbar Umum, Minggu 12 November 1995
(168)   “Hamlet”, Harian Mimbar Umum, Minggu 15 Oktober 1995
(169)   “Kartupat”, Harian Mimbar Umum, Minggu 4 Juni 1995
(170)   “Belajar dari ATJ, FKTSU, dan Labter (Sebuah Permasalahan untuk Kontak Budaya)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Maret 1995
(171)   “Lagi, Tentang Pencekalan Kesenian”, Harian Mimbar Umum, Minggu 26 Februari 1995
(172)   “Kemerdekaan dan Kebudayaan, Keberanian untuk Menderita (Satu Kajian Representatif)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 12 Februari 1995
(173)   “Seniman Medan dalam Teka-teki Penghargaan”, Harian Mimbar Umum, Minggu 22 Januari  1995
(174)   “Teater Medan dalam Kebimbangan (Suatu Evaluasi)”, Harian Mimbar Umum, Minggu 4 Desember 1994
(175)   “Yang Tercecer dari Parade Teater Serumpun”, Harian Mimbar Umum, Minggu 27 Oktober 1991
(176)   “Menyimak Pergelaran Sastra”, Harian Bukit Barisan, Minggu 20 Oktober 1991
(177)   “Opspek IKIP Medan Berjalan Mulus”, Harian Garuda, Minggu I September 1991 Halaman V
(178)   “Hambatan Membaca dan Mengatasinya”, Harian Garuda, Minggu Kedua September 1991 Halaman V
(179)   “Parade Teater Serumpun 1991”, Harian Bukit Barisan, Minggu 8 September 1991
(180)   “Mahasiswa Baru Sibuk Berbenah Diri”, Harian Garuda, Minggu Ketiga September 1991 Halaman V
(181)   “Pembacaan Puisi Susi Andrian Agaputra : Menangkap ‘Kesenduan’ Penyair dengan Batinnya”, Harian Garuda, Minggu Agustus 1991 Halaman V
(182)   “Potret Merah Jambu Berkesan Pop”, SKM Demi Masa, Minggu Agustus 1991 Halaman V
(183)   “Teater LKK IKIP Medan Ber-Semangat Mengepak”, PKM Kreatif IKIP, Agustus 1991 Halaman 1
(184)   “NA Hadian Menggalang Lewat Sastra Zenith Indonesia”, Harian Garuda, Minggu Pertama Agustus 1991 Halaman V
(185)   “Menggugat Teater di Sumut”, Harian Bukit Barisan, Minggu 28 Juli 1991
(186)   “Menyongsong Wisata Karya Teater”, Harian Bukit Barisan, Minggu 11 Agustus 1991
(187)   “Menengok Sepekan Teater Mahasiswa”, Harian Garuda, Minggu 30 Juni 1991



-- Mohon info bagi teman-teman yang kemungkinan menyimpan atau menemukan artikel saya di luar judul di atas supaya memberitahukan atau menyampaikan ke saya. Terima kasih.